Tren Campak Naik, Misinformasi dan Disinformasi Masih Jadi Tantangan

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS– Kasus campak di Indonesia terus meningkat. Indonesia bahkan termasuk negara dengan kasus campak tertinggi di dunia. Cakupan imunisasi yang tidak optimal disertai dengan banyaknya misinformasi dan disinformasi mengenai vaksin menjadi penyebabnya.

Ketua Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Hartono Gunardi mengatakan, Indonesia merupakan salah satu negara dari 10 negara dengan kasus campak terbanyak di dunia. Jumlah kasus di Indonesia pun terus meningkat dengan data terbaru Indonesia menduduki peringakat kedua terbanyak di dunia.

“Dari data kesehatan di dunia bahwa campak ini merupakan salah satu penyakit yang paling banyak diderita di berbagai negara. Banyak negara yang sudah kehilangan status bebas campaknya karena campak ini demikian menular,” katanya dalam acara Temu Jurnalis Pekan Imunisasi Dunia 2026 di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Tahun ini tema Pekan Imunisasi Dunia yang digunakan yakni Indonesia Kuat, Generasi Selamat. Adapun dalam acara temu jurnalis tersebut hadir pula Kepala Desk Humaniora Harian Kompas Evy Rachmawati dan aktris Maudy Koesnaedi.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dan Deputy Resident Representative Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) Indonesia Sujala Pant turut menyampaikan sambutan dalam temu media tersebut.

Baca JugaCampak, Wabah Penyakit Menular, dan Peringkat Indonesia
Baca JugaCampak yang Terabaikan
Baca JugaCampak yang Tercampakkan

Dari data yang dihimpun, Hartono memaparkan, jumlah kasus campak di Indonesia terus meningkat. Pada 2024, Indonesia masuk dalam peringkat ke-10 dunia dengan angka kasus campak mencapai 5.648 penderita.

Pada tahun 2025, Indonesia menempati peringkat ke-5 dengan kasus mencapai 7.134 orang. Sementara pada 2026, jumlah kasus campak meningkat jadi 10.744 kasus yang membuat Indonesia menduduki peringkat kedua dengan kasus campak terbanyak di dunia.

Lonjakan kasus campak di Indonesia dipengaruhi karena cakupan imunisasi yang menurun. Cakupan tersebut mulai menurun sejak pandemi Covid-19.

Hartono menuturkan, lonjakan kasus campak di Indonesia dipengaruhi oleh cakupan imunisasi yang menurun. Cakupan tersebut mulai menurun sejak pandemi Covid-19.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan cakupan imunisasi lengkap pada 2025 sebesar 79,3 persen. Angka tersebut menurun dari cakupan di tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 87,7 persen pada tahun 2024 dan 95,3 persen pada 2023.

Penurunan cakupan imunisasi tersebut salah satunya disebabkan masih banyak warga yang ragu akan vaksinasi. Selain itu, sejumlah orang juga merasa campak bukan penyakit berbahaya yang mesti dicegah dengan imunisasi.

“Padahal, campak itu bukan sekadar bercak merah dan demam, namun penyakit yang bisa menyebabkan komplikasi bermacam-macam, antara lain radang paru-paru yang menjadi penyebab kesakitan dan kematian anak,” tuturnya.

Hartono menambahkan, komplikasi lainnya meliputi antara lain radang otak, kejang-kejang, dan tidak sadarkan diri. Jika sudah mengalami komplikasi, kasus campak yang sudah sembuh seringkali mengalami gejala sisa, seperti gangguan penglihatan dan gangguan pendengaran.

Baca JugaCampak Meningkat, IDAI:  Lengkapi Imunisasi Anak
Baca JugaCampak yang Menyerang
Baca JugaCampak Juga Terjadi pada Usia Dewasa, Gejala Tidak Khas dan Bisa Lebih Berat

Karena itu, setiap anak harus dilindungi dari campak. Upaya pencegahan yang paling efektif melalui imunisasi. “Salah satu upaya paling aman untuk mencegah penyakit infeksi yakni imunisasi. Itu tidak hanya melindungi dirinya tetapi juga orang disekitarnya,” ucapnya.

Misinformasi

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyampaikan, cakupan imunisasi yang belum optimal disebabkan karena tingginya infodemik, disrupsi informasi, dan misinformasi terkait imunisasi. Tidak sedikit warga yang mendapatkan informasi dari sumber tidak jelas.

“Banyak informasi yang tidak jelas, misalnya, kalau kita terlahir sudah punya imunitas, kenapa harus divaksin? Atau ada juga yang bilang vaksin hanya akal-akalan pemerintah. Padahal, vaksinasi adalah investasi yang luar biasa efektif untuk mencegah kematian dan kesakitan di masa depan,” tuturnya.

Menurut UNESCO (Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB) , dalam buku ”Jurnalisme, Berita Palsu, dan Disinformasi”, sebagian besar wacana tentang berita palsu menggabungkan dua hal yakni misinformasi dan disinformasi. Misinformasi adalah informasi salah yang disebarkan orang yang mempercayainya sebagai hal benar.

Sementara disinformasi adalah informasi salah yang disebarkan orang yang tahu informasi itu salah. Jadi disinformasi adalah kebohongan yang disengaja terkait orang-orang yang disesatkan secara aktif oleh aktor jahat. Kategori ketiga yakni mal-informasi berupa informasi berdasarkan realitas tapi dipakai untuk merugikan orang, organisasi, atau negara lain.

Dante menegaskan, imunisasi merupakan hal baik yang dapat menyehatkan anak-anak di Indonesia. Tidak ada efek samping yang berarti. Manfaat yang diberikan dari vaksin jauh lebih besar dari efek samping yang ditimbulkan.

Pentingnya imunisasi disampaikan pula oleh Deputy Resident Representative UNDP Indonesia Sujala Pant. Imunisasi merupakan intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif dan efisien. Vaksinasi setidaknya telah mencegah sekitar 4 juta kematian di dunia.

Vaksinasi dapat mengurangi beban jangka panjang, terutama bagi masyarakat yang berada di daerah terpencil. Penguatan vaksinasi bukan sekadar untuk pencegahan, namun juga melindungi masyarakat di masa depan. “Vaksin benar-benar menyelamatkan nyawa,” tuturnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Saham Danamon (BDMN) Naik Dua Hari Beruntun, Begini Kata Manajemen
• 11 jam lalubisnis.com
thumb
China-Kamboja Sepakat Berantas Pusat Penipuan Daring
• 3 jam lalutvrinews.com
thumb
Kartini di Garda Bencana, Desiana Kartika Bahari Rela Keluar dari Zona Nyaman
• 3 jam laludisway.id
thumb
Wapres AS J.D. Vance Batalkan Perundingan, Trump Perpanjang Gencatan Senjata — Situasi Timur Tengah Kembali Memanas
• 6 jam laluerabaru.net
thumb
Jadi Tren Baru, Anak-anak Muda Korea Selatan Cari Pasangan di Toko Buku
• 4 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.