Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan Presiden Prabowo telah menyetujui pengiriman pupuk ke Australia sebanyak 250 ribu ton.
Selain Australia, ada India, Filipina, dan Brasil yang tertarik mendatangkan pupuk dari Indonesia. Namun, Airlangga belum bisa mengungkapkan apakah permintaan ketiga negara itu sudah disetujui atau belum.
“Beberapa negara meminta kepada Indonesia, India, Filipina maupun Australia. Bapak Presiden (Prabowo) sudah memberikan kepada Australia 250 ribu ton,” ungkap Airlangga dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Investasi/BKPM, Jakarta Selatan, Kamis (23/4).
Airlangga memastikan pasokan pupuk di dalam negeri sudah aman. Berdasarkan data Pupuk Indonesia per 20 April 2026, pasokan pupuk saat ini mencapai sekitar 1,18 juta ton.
“Kita menetapkan harga untuk industri tertentu termasuk pupuk yang dijaga USD 6,5 dolar sehingga dengan demikian pupuk kita surplus,” ujar Airlangga
Airlangga menekankan kondisi tersebut menunjukkan Indonesia memiliki ketahanan yang cukup baik di sektor pangan, energi, dan kelistrikan, sehingga dampak fluktuasi global dapat relatif dimitigasi.
Kapasitas produksi PT Pupuk Indonesia (Persero) saat ini mencapai 14,65 juta ton per tahun. Angka tersebut terdiri dari urea sebesar 9,36 juta ton, NPK sebanyak 4,52 juta ton, ZA sebesar 750 ribu ton, serta ZK sebesar 20 ribu ton per tahun.
Dari total kapasitas tersebut, terdapat potensi kelebihan pasokan yang dapat dimanfaatkan untuk ekspor secara terukur. Meski demikian, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono tetap menegaskan kebutuhan dalam negeri akan menjadi prioritas utama sebelum realisasi ekspor dilakukan.
“Kita Indonesia akan mengutamakan kebutuhan pupuk dalam negeri. Setelah kita hitung, ada ekses atau kelebihan sekitar 1,5 juta ton yang bisa kita ekspor ke luar negeri,” jelas Sudaryono, dikutip Kamis (23/4).





