Pantau - Wakil Menteri Keuangan Juda Agung memaparkan strategi pemerintah dalam menjaga ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah tekanan global dalam acara Fitch Ratings Annual Indonesia Conference di Jakarta pada Kamis, 23 April 2026.
Efisiensi Belanja dan Perlindungan Daya BeliJuda menjelaskan strategi pertama dilakukan dengan meningkatkan efisiensi belanja negara yang difokuskan pada program-program prioritas pemerintah.
Ia mengungkapkan, “Kami meningkatkan efisiensi belanja dan kualitas implementasi program-program unggulan, termasuk program makan bergizi gratis (MBG).”
Pemerintah juga menjalankan kebijakan kontra-siklikal guna menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk melindungi daya beli masyarakat, khususnya kelompok rentan yang terdampak fluktuasi ekonomi.
Ia menambahkan, “Pada saat yang sama, kami melindungi daya beli masyarakat dengan mempertahankan harga energi bersubsidi bagi kelompok rentan.”
Pembiayaan Inovatif dan Peningkatan PenerimaanStrategi kedua dilakukan melalui penguatan pembiayaan inovatif dengan mengoptimalkan pengelolaan portofolio pembiayaan negara.
Pemerintah juga memperdalam pasar keuangan domestik serta menjaga ketersediaan bantalan fiskal atau fiscal buffer.
Selain itu, efisiensi pengelolaan kas negara terus ditingkatkan dan hubungan dengan investor diperkuat untuk menjaga stabilitas pembiayaan.
Strategi ketiga difokuskan pada peningkatan penerimaan negara, terutama dari sektor perpajakan yang dijaga agar selaras dengan pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah memperkuat sistem perpajakan berbasis digital untuk meningkatkan efektivitas penerimaan negara.
Dalam tiga bulan pertama tahun ini, penerimaan pajak tercatat tumbuh sebesar 20 persen.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh digitalisasi melalui sistem Coretax serta optimalisasi penerimaan dari lonjakan harga komoditas.
Perbaikan dalam pengelolaan restitusi pajak juga turut memberikan kontribusi terhadap peningkatan penerimaan.
Pemerintah turut mengoptimalkan peran Badan Pengelola Investasi Danantara sebagai instrumen pembiayaan alternatif di luar APBN.
Danantara diharapkan mampu mendorong keterlibatan sektor swasta dalam investasi strategis nasional.
Juda menegaskan, “Kami telah memperkuat instrumen fiskal dengan sinergi bersama mitra strategis baru kami, Danantara, untuk mendukung program investasi dan pembangunan.”




