Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta
Ketua Komite Wasit PSSI Yoshimi Ogawa menegaskan segala bentuk rasisme di lapangan tidak bisa ditoleransi, termasuk yang terjadi antarpemain dalam pertandingan.
Ia menanggapi insiden dalam laga Elite Pro Academy (EPA) U-20 antara Bhayangkara Presisi Lampung FC dan Dewa United Banten yang melibatkan Fadly Alberto dan Rakha Nurkholis.
Dalam pertandingan tersebut sempat terjadi kericuhan usai gol kedua Dewa United yang diprotes karena dinilai offside, hingga memicu konflik fisik di lapangan. Dugaan adanya ujaran bernuansa rasis disebut menjadi salah satu pemicu situasi tersebut.
Ogawa menegaskan prinsip “No Racism” harus menjadi komitmen bersama seluruh elemen sepak bola, baik pemain, ofisial, maupun perangkat pertandingan. Ia menekankan pentingnya sikap saling menghormati, bahkan dalam situasi kompetitif.
“Pemain sepak bola harus saling menghormati satu sama lain, bahkan saat bertanding. Tidak boleh ada rasisme, tidak boleh ada penghinaan. Ini sangat penting,” ujar Ogawa kepada wartawan termasuk tvrinews.com di GBK Arena, Jakarta, Kamis, 23 April 2026.
Menurutnya, aspek keamanan dan keselamatan di lapangan tidak hanya mencakup fisik, tetapi juga perlindungan dari tindakan diskriminatif.
Ia berharap kejadian serupa tidak terulang kembali, mengingat sepak bola seharusnya menjadi ruang yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan kesetaraan.
“Kita adalah manusia, tidak ada perbedaan. Harus saling menghormati,” ucap Ogawa.
Terkait komunikasi antara wasit dan pemain, Ogawa menjelaskan bwasit pada dasarnya dapat memberikan penjelasan atas keputusan yang diambil di lapangan. Namun, ia mengingatkan agar komunikasi tersebut dilakukan secara proporsional.
Wasit, kata dia, tetap harus membuka ruang bagi pemain, terutama kapten tim, untuk mengajukan pertanyaan, selama dilakukan dengan sikap hormat. Di sisi lain, penjelasan dari wasit tidak perlu berlarut-larut.
“Kalau pemain bertanya dengan hormat, wasit harus menjawab. Tapi tidak perlu ada diskusi panjang. Cukup tanya, jawab, selesai,” kata Ogawa.
Ia menambahkan tanpa adanya rasa saling menghormati, komunikasi antara pemain dan wasit akan sulit terjalin dengan baik. Sehingga, disiplin dan etika di lapangan menjadi kunci dalam menjaga kualitas pertandingan.
Editor: Redaktur TVRINews





