Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Jakarta
Indonesia dan Uni Eropa telah berkomitmen akan bersama menghadapi krisis iklim dan energi melalui penguatan kolaborasi sains dan teknologi. Hal ini mengemuka dalam gelaran RI–EU Science and Technology Collaboration Forum 2026 yang berlangsung pada Rabu, 22 April 2026.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto mengatakan jika pihaknya bersama dengan Delegasi Uni Eropa berkomitmen untuk Indonesia mendorong penguatan sinergi lintas negara.
Di mana, fokusnya mencakup pengembangan teknologi hijau, peningkatan kapasitas riset, hingga perluasan jejaring inovasi global yang lebih inklusif.
Ia menegaskan, bahwa kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam menjawab kebutuhan pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan.
“Kita ingin memastikan bahwa riset, inovasi, serta sumber daya manusia menjadi kekuatan utama dalam menjawab kebutuhan bangsa Indonesia. Perguruan tinggi harus berada di garda depan dalam melahirkan talenta-talenta unggul yang memiliki perencanaan strategis. Forum ini mengangkat tema yang sangat relevan, yaitu teknologi hijau, yang merupakan salah satu solusi masa depan, yang menjadi kebutuhan kita,” ujar Menteri Brian kutip Kamis, 23 April 2026.
Ia menambahkan, teknologi hijau tidak hanya menjadi solusi lingkungan, tetapi juga berperan dalam transformasi industri nasional dan peningkatan daya tarik investasi melalui pemanfaatan energi non-fosil.
“Kami berharap kita bisa terus memperkuat komunikasi, sehingga bisa menjadi jembatan para peneliti, membuka akses bagi para mahasiswa dan dosen, serta membangun proyek-proyek kolaboratif yang bisa diukur dampaknya. Kita ingin kolaborasi Indonesia dan Uni Eropa semakin kuat dalam bentuk kolaborasi yang bisa dihasilkan oleh dua bangsa,” ujarnya.
Dikesempatan yang sama, pihak Uni Eropa Duta Besar Denis Chaibi menyebut Indonesia sebagai mitra penting dalam pengembangan inovasi hijau global.
“Indonesia adalah mitra kunci bagi Uni Eropa dalam mendorong inovasi hijau. Dengan mendukung inisiatif Pemerintah Republik Indonesia yaitu 1.000 Green Engineers, berarti kami juga mewujudkan strategi Uni Eropa Global Gateway, menjalin kemitraan yang kuat di seluruh dunia. Kami berinvestasi pada generasi muda Indonesia, karena teknologi hijau akan membentuk masa depan kita bersama secara berkelanjutan, hingga berpuluh tahun mendatang,” jelas Duta Besar Denis.
Dalam forum tersebut, turut diperkenalkan platform EU Green Engineering Hub yang membuka akses luas bagi mahasiswa dan akademisi Indonesia terhadap program pendidikan, beasiswa, hingga peluang karier di bidang rekayasa hijau di Eropa.
Selain itu, skema pendanaan Horizon Europe juga disosialisasikan untuk mendorong keterlibatan lebih besar peneliti Indonesia dalam kolaborasi internasional, khususnya pada sektor iklim, energi, pangan, mobilitas, dan lingkungan.
Sejumlah akademisi dan inovator nasional turut memaparkan hasil riset dan praktik terbaik. Mulai dari pengembangan arsitektur berkelanjutan, inovasi pengolahan limbah menjadi energi berbasis kearifan lokal, hingga teknologi mitigasi bencana berbasis platform digital.
Forum ini dihadiri berbagai unsur, mulai dari perguruan tinggi, kementerian dan lembaga seperti Bappenas, Kemenko PMK, Kementerian Luar Negeri, dan BRIN, hingga komunitas muda dan organisasi masyarakat sipil.
Ke depan, Kemdiktisaintek menargetkan penguatan kolaborasi global yang lebih luas, termasuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia, riset bersama, serta hilirisasi inovasi agar berdampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi Indonesia dalam memperkuat posisi di tingkat global sekaligus mendorong transisi menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan.
Editor: Redaktur TVRINews





