Kinerja Garuda (GIAA) Masih Loyo, Danantara Singgung Rupiah dan Perang Iran

katadata.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara Indonesia mengungkapkan dampak pelemahan nilai tukar rupiah dan ekskalasi konflik Amerika Serikat (AS)-Iran terhadap sektor penerbangan. Dampak itu terutama dirasakan oleh emiten penerbangan pelat merah PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). 

Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, nilai tukar rupiah mencetak all–time low setelah melemah hingga 17.310 per dolar AS pada intraday hari ini, Kamis (23/4). Depresiasi nilai mata uang nasional itu juga sejalan dengan pelemahan mata uang negara berkembang lainnya terhadap dolar AS.

Lesunya nilai tukar rupiah seiring kembali meningkatnya harga minyak global akibat masih berlanjutnya gangguan pasokan via Selat Hormuz. Harga minyak Brent naik sekitar 1,6% ke hingga US$ 103,5/barel pada pergerakan intraday hari ini.

Managing Director Finance Danantara Asset Management, Sahala Situmorang, mengakui dampak signifikan dari perang serta lonjakan harga minyak terhadap kinerja emiten pelat merah. Ia pun mulai melihat portofolio Danantara, menganalisis perusahaan dan industri yang  terdampak. 

Dari situ, Sahala meminta sejumlah perusahaan untuk menjalankan beberapa skenario menghadapi situasi yang tak menguntungkan saat ini, mulai dari skenario dasar hingga yang paling optimistis. 

“Kami berbicara dengan para ekonom kami, apa skenario terburuknya, dan kami meminta mereka untuk menjalankan analisis sensitivitas tersebut. Jadi begitulah cara kami mengelola portofolio kami,” kata dia dalam diskusi Fitch on Indonesia 2026 di Jakarta, Kamis (23/4). 

Sahala mengatakan, ada dampak nyata gejolak geopolitik terutama sektor logistik dan penerbangan. Tak hanya itu, ia pun menyebut Garuda mengalami tekanan signifikan akibat situasi itu. “Tentu saja, kami semua tahu mereka sangat terdampak,” kata Sahala.

Sahala pun menyoroti lonjakan harga bahan bakar yang naik hampir dua kali lipat dan pelemahan nilai tukar rupiah yang kini telah menembus level 17.300 per dolar AS. 

Menurut dia, pihaknya terus berkomunikasi dengan manajemen GIAA untuk memantau dampak, khususnya terhadap arus kas. Ia menegaskan, tekanan yang dihadapi maskapai nasional itu terbilang signifikan. Karenanya, Danantara juga membahas skema dukungan, termasuk dari sisi pembiayaan. 

“Tetapi yang pasti, kami ada di sana untuk mendukung Garuda,” kata Sahala.

Ia menilai konflik di Timur Tengah tidak mengubah pengelolaan terhadap BUMN. Menurutnya, ketidakpastian global seperti perang maupun bencana akan terus terjadi dan sudah menjadi bagian dari dinamika yang harus dihadapi.

Danantara Asset Management tetap konsisten dalam strategi pengelolaan perusahaan pelat merah. Kendati demikian, ia memastikan perusahaan tetap rutin melakukan uji stres dan analisis sensitivitas demi mengantisipasi berbagai potensi risiko ke depan.

“Dan perang ini dimulai mungkin satu atau dua bulan yang lalu, kemudian kami mulai melakukan uji stres. Tentu saja, uji stresnya sedikit berbeda,” ucap Sahala. 

Kinerja Kuartal I 2026

Garuda masih membukukan rugi bersih US$ 41,62 juta atau setara dengan Rp 707,49 miliar (dengan kurs Rp 16.998,8 terhadap dolar AS) pada kuartal pertama 2026. Namun pendapatan perseroan naik menjadi US$ 762,35 juta dari US$ 723,56 juta secara tahunan atau year on year (YoY). Pendapatan tersebut diperoleh dari penerbangan berjadwal sebesar US$ 648,10 juta, penerbangan tidak berjadwal sebesar US$ 24,98 juta dan pendapatan lain-lain sebesar US$ 89,27 juta. 

Seiring dengan pendapatan perseroan yang naik, beban usaha GIAA pun tercatat turun. Nilainya berkurang dari US$ 718,36 juta menjadi US$ 713,22 juta secara tahunan. Penurunan terjadi karena beban operasional penerbangan ikut turun dari US$ 361,96 juta menjadi US$ 350,24 juta secara YoY. 

Kemudian beban umum dan administrasi juga berkurang dari US$ 42,01 juta menjadi US$ 47,81 juta secara tahunan. Berdasarkan laporan keuangan tersebut, GIAA memangkas 128 karyawan pada kuartal 1 2026 menjadi 10.724 karyawan dari sebelumnya 10.852 karyawan pada 2025.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
HNW Minta Pemerintah Perkuat Dukungan Yordania Selamatkan Masjid Al Aqsha
• 23 jam laludetik.com
thumb
Gawat! Lamine Yamal Cedera Parah, Musim di Barca Berakhir, Absen di Piala Dunia?
• 2 jam laluharianfajar
thumb
Kepala BGN Klarifikasi Isu 19.000 Ekor Sapi untuk MBG: hanya Simulasi Kebutuhan
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Surya Paloh Tekankan Pentingnya Restorasi Moral Bangsa
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
BNPB Targetkan Huntara di Aceh Tamiang Rampung Lima Hari
• 13 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.