Perencanaan keuangan merupakan salah satu kunci dari stabilitas finansial. Dengan mengetahui cara mengelola uang dengan baik, kita bisa mencapai financial freedom dan siap menghadapi berbagai perubahan besar dalam hidup, termasuk saat pensiun nanti.
Sayangnya, masih banyak perempuan yang secara finansial belum siap untuk menghadapi perubahan besar. Bahkan, menurut survei terbaru yang dilakukan oleh Sunlife pada 2026, setidaknya hanya 19 persen perempuan Indonesia yang merasa sangat siap untuk menghadapi kejadian finansial yang tak terduga. Padahal, 62 persen perempuan berperan sebagai pengambil keputusan finansial dalam keluarga mereka.
Menurut Financial Planner Bareyn Mochaddin, S.Sy, M.H, RIFA, RFC dalam acara kumparan Hangout Women and Money: Building Financial Freedom Today, ternyata masih banyak mindset atau pola pikir keliru soal perencanaan keuangan. Pola pikir ini justru menghambat stabilitas keuangan, bahkan berpotensi membuat kita lebih mudah kehabisan uang.
“Jika keadaan hidup berubah tiba-tiba, apakah kita siap secara finansial? Apakah kita punya tabungan, bekal, dan kemampuan finansial? Perencanaan keuangan itu bukan cuma soal punya uang, tetapi kemampuan untuk membuat sebuah pilihan,” ucap Bareyn pada Sabtu (18/4) lalu.
“Biaya masa depan itu penting. Kalau kita tidak siap dan tidak merencanakan, anak kita nanti akan kesulitan; untuk kuliah, anak terpaksa cari beasiswa. Ada juga biaya pensiun,” imbuhnya.
Lalu, apa saja pola pikir keliru soal perencanaan keuangan yang masih banyak diyakini perempuan? Simak penjelasan dari Financial Planner Bareyn berikut ini, Ladies.
1. Merasa tak ada uang untuk dikelolaMenurut Bareyn, salah satu pola pikir yang keliru soal perencanaan keuangan adalah menolak mengelolanya karena tidak punya uang. Padahal, berapa pun penghasilanmu, uangnya harus dikelola. Justru, dengan perencanaan yang baik, kamu akan punya uang hingga hari gajian selanjutnya.
2. Merasa akan ditanggung suami sepenuhnyaBanyak perempuan yang setelah menikah, keuangannya ditanggung oleh suami. Meski begitu, Bareyn menegaskan, ini bukan berarti perempuan bisa terbebas dari pengelolaan keuangan pribadi dan tidak memiliki penghasilan.
Sebab, banyak peristiwa yang memungkinkan suami tidak lagi mampu menanggung keuangan istri. Contohnya adalah sakit, PHK, cerai hidup, atau suami meninggal dunia. Inilah mengapa, Bareyn mengingatkan perempuan untuk mengelola uang dan berdaya secara finansial.
“Suami itu bisa menanggung, bisa juga tidak. Ada juga kondisi-kondisi yang membuat suami tidak bisa menanggung kebutuhan keluarga. Bisa jadi PHK, sakit, dan lain sebagainya,” jelas Bareyn.
3. Perencanaan keuangan itu sulitSalah satu mindset keliru yang dimiliki oleh banyak perempuan adalah bahwa perencanaan keuangan itu sulit dilakukan. Menurut Bareyn, perencanaan keuangan tidaklah sulit. Mungkin akan terasa berat jika belum terbiasa, tetapi lama kelamaan akan terasa mudah.
4. Telat investasi, menunggu gaji besarInvestasi merupakan salah satu instrumen pengelolaan keuangan yang dapat membantu kita menjaga nilai uang di masa mendatang. Namun, banyak perempuan yang belum mau berinvestasi karena merasa gajinya masih kecil. Mereka menunda investasi sampai nanti gajinya besar.
Padahal, menurut Bareyn, investasi bisa dilakukan seawal mungkin, bahkan mulai dari Rp 10 ribu saja. Meski begitu, sebelum berinvestasi, perempuan harus memastikan prioritas dan pos-pos keuangan lainnya sudah terisi terlebih dahulu.
“Pastikan kita tidak punya utang konsumtif. Jaga asuransi dan dana darurat, barulah kita bisa berinvestasi. Jangan mulai investasi jika masih punya cicilan pinjaman online. Jangan lakukan jika belum punya asuransi. Kelola dulu uangnya dengan baik, aliran dana harus positif, dan ada sisa uang di akhir bulan. Atau, sejak awal sudah menyisihkan uang buat ditabung atau diinvestasikan,” tutup Bareyn.





