Bisnis.com, JAKARTA — PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) memandang prospek penyaluran kredit ke depan tetap optimistis namun berhati-hati.
Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank Ganda Raharja Rusli menyampaikan, bank memiliki amunisi yang cukup untuk menyalurkan kredit, Hal ini tercermin dari Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh sebesar 13,55% secara tahunan (year on year/YoY), di atas laju pertumbuhan kredit itu sendiri yang berada pada posisi 9,49% YoY.
“Kondisi ini memastikan bahwa bank tidak kekurangan sumber pendanaan,” kata Ganda kepada Bisnis, Kamis (23/4/2026).
Selain itu, bank melihat peluang besar pada sektor produktif. Ganda menuturkan, berdasarkan data Maret 2026, kredit investasi tumbuh 20,85% YoY dengan sektor-sektor prioritas seperti hilirisasi industri, dan konstruksi menjadi sasaran utama, berkat dukungan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dari Bank Indonesia (BI).
Perbankan juga mencermati masih besarnya ruang ekspansi dari fasilitas kredit yang telah disetujui namun belum ditarik (undisbursed loan). Nilainya mencapai Rp2.527,46 triliun atau sekitar 22,59% dari total plafon, yang berpotensi menjadi sumber pertumbuhan kredit ke depan.
Ganda menambahkan, sejatinya kebijakan KLM dari BI sudah cukup mampu meningkatkan sisi ketersediaan dana. Kendati begitu, dia menilai kebijakan ini belum sepenuhnya bisa mendorong pertumbuhan kredit jika sisi permintaan tidak tumbuh searah.
“Sejauh ini, pertumbuhan kredit di level 9,49% menunjukkan kebijakan ini bekerja sebagai pelumas yang baik, tetapi motor penggerak utamanya tetaplah kepercayaan diri dunia usaha untuk melakukan ekspansi,” tuturnya.
Pada Maret 2026, BI mencatat kredit perbankan tumbuh 9,49% YoY, lebih tinggi dari posisi Februari 2026 yang tumbuh 9,37% YoY. Dari sisi penggunaan, perkembangan ini didukung oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi yang pada Maret 2026 masing-masing tumbuh sebesar 20,85%, 4,38%, dan 5,88% YoY.
Otoritas moneter memperkirakan, pertumbuhan kredit pada tahun ini tetap terjaga pada kisaran 8—12%, dipengaruhi oleh sisi permintaan dan penawaran.
Dari sisi permintaan, BI menilai bahwa pemanfaatan pembiayaan perbankan masih dapat ditingkatkan, terutama dengan mengoptimalkan undisbursed loan yang masih cukup besar yaitu mencapai Rp2.527,46 triliun atau 22,59% dari plafon kredit yang tersedia.
Sementara itu dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank tetap memadai, ditopang oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 27,85% dan DPK yang masih tumbuh tinggi sebesar 13,55% YoY pada Maret 2026.
“Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat kapasitas pendanaan perbankan, termasuk pengembangan instrumen nontraditional funding (non-DPK) guna mendukung penyaluran kredit perbankan,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam keterangannya, dikutip pada Kamis (23/4/2026).





