VIVA – Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk saat ini tengah berada di titik rawan setelah Iran menunjukkan kekuatan militernya di Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi urat nadi distribusi energi dunia. Situasi ini bukan hanya soal konflik regional, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global, termasuk harga minyak yang langsung merespons setiap eskalasi yang terjadi.
Dalam perkembangan terbaru, Iran secara terbuka memamerkan operasi militernya melalui rekaman yang disiarkan televisi nasional. Dalam video tersebut, pasukan komando bersenjata terlihat menaiki kapal kargo raksasa di tengah laut. Aksi dramatis itu menunjukkan bagaimana Teheran kini memperketat kontrol atas Selat Hormuz, yang selama ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Kapal yang menjadi target operasi disebut sebagai MSC Francesca. Dalam rekaman, pasukan bertopeng mendekati kapal menggunakan speedboat, memanjat tangga tali, lalu masuk ke badan kapal sambil membawa senjata laras panjang. Selain itu, Iran juga mengklaim telah menguasai kapal lain bernama Epaminondas. Kedua kapal tersebut dituduh melintasi selat tanpa izin resmi dari otoritas Iran.
Langkah ini dilakukan di tengah mandeknya upaya diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat. Harapan Washington untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis itu melalui perundingan damai kini pupus, memperbesar risiko konflik terbuka.
- REUTERS/ Stringer
Di sisi lain, situasi di darat juga tak kalah mencekam. Sistem pertahanan udara di Teheran dilaporkan aktif menghadapi “target musuh” pada Kamis malam waktu setempat. Meski belum jelas apa yang menjadi sasaran, laporan tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak dunia, menandakan betapa sensitifnya pasar terhadap perkembangan di kawasan ini.
Israel pun tak tinggal diam. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyampaikan peringatan keras bahwa negaranya siap kembali melancarkan serangan jika mendapat lampu hijau dari Amerika Serikat.
“Serangan kali ini akan berbeda dan mematikan, menghantam titik-titik paling sensitif dan memberikan pukulan yang menghancurkan,” ujar Katz dalam pernyataan yang dikutip Reuters.
Ia bahkan menyebut bahwa target utama adalah pemimpin tertinggi Iran, sebuah sinyal bahwa eskalasi berikutnya bisa jauh lebih berbahaya dibanding sebelumnya.




