Menelusuri Lorong Waktu di Istanbul

kompas.id
14 jam lalu
Cover Berita

Menelusuri Istanbul ibarat memasuki lorong waktu. Setiap sudut kota, setiap denyut kota, adalah sedimentasi budaya selama ratusan, bahkan ribuan tahun lamanya hingga membentuk Istanbul sebagai kota kosmopolitan hari ini.    

Pagi pertengahan Februari di Istanbul, Turki. Musim dingin masih menyisakan cerita sebelum berganti semi di April. Suhu udara sekitar 10 derajat celsius.

Sementara angin berembus dari Laut Hitam, rumah-rumah dan tempat niaga belum semunya membuka pintu untuk tamu-tamu. Hanya segelintir orang berjalan, baru beberapa mobil berseliweran.

Ke kawasan Balat, rombongan kecil dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura mengawali jadwal perjalanan hari itu. Balat adalah kawasan yang secara tradisional menjadi rumah bagi komunitas minoritas di Istanbul, dengan banyak keluarga Yahudi dan Yunani Ortodoks yang menetap dan membangun kehidupan di tempat ini pada mulanya. Lokasinya berada di tepi Golden Horn, teluk yang merupakan cabang dari Selat Bosphorus.

Burung-burung camar terbang rendah saat rombongan turun dari mobil menuju kawasan permukiman Balat. Dari dropping point, jaraknya hanya sepelemparan batu.

Berdiri di tepi teluk, Gereja Ortodoks Bulgaria, Santo Stefanus. Dibangun pada tahun 1890-an, gereja itu menggunakan konstruksi besi yang dibuat di Vienna, Austria, dan menyimpan lonceng buatan Rusia.

Sementara menghadap ke teluk, fragmen tembok Bizantium Konstantinopel yang dikenal sebagai Sea Walls of Constantinople (Byzantine sea walls). Fragmen dari abad ke-5 ini tersebar di sejumlah lokasi. Ada yang melekat dengan kawasan permukiman, ada yang berdampingan dengan kawasan niaga. Ada pula yang berdiri soliter sebagai puing.

Tak lama berselang, rombongan tiba di salah satu gang permukiman. Jalanan batu (cobblestone) menjadi kompas untuk menelusuri gang-gang Balat. Di mulut gang, seorang penjaga warung menawarkan minuman teh dan kopi. Selain tempat ”makan rumahan”, berderet kafe dan toko cendera mata di sepanjang gang di Balat.

Kebanyakan outlet masih tutup. Sebagian sedang bersiap-siap buka, sebagian lagi baru saja buka. Berderet toko menawarkan makanan dan cendera mata khas Istanbul. Kafe-kafe menyediakan minuman kopi dan teh berikut dengan kue-kue manis ala Turki.

Seorang tukang sapu tampak di kejauhan, seolah mengingatkan kembali bahwa hari masih pagi. Jam digital di telepon seluler menunjukkan waktu belum genap pukul 08.30 waktu setempat. Suhu udara masih sekitar 10 derajat celsius.

Di antara dereta rumah dan toko, menyembul Sinagoga Yanbol yang dibangun oleh para imigran Bulgaria pada abad 17-18. Di puncak bukit, menjulang Fener Greek High School. Dibangun pada 1454, setahun setelah Konstantinopel jatuh ke Ottoman, sekolah Ortodoks Yunani tertua di Turki itu masih bertahan hingga kini.

Jalanan batu akhirnya menuntun perjalanan kaki sampai ke Velvet Cafe, sebuah restoran keluarga di salah satu sudut di Balat. Dan tak ada cara paling menyegarkan untuk mengawali perjalanan budaya ini ketimbang ”menyantap” budaya Turki di meja makan.

Velvet Cafe, sebuah tempat makan yang dari luar tampak biasa dan sederhana, menawarkan suasana rumah ”kakek-nenek”.  Bukan kebetulan, rumah itu memang rumah warisan keluarga, turun-temurun.

Kafe yang merupakan usaha keluarga itu menawarkan makanan tradisional khas Turki. Suasana menjadi hangat dengan furnitur tua dan dekorasi barang-barang antik dalam interior ruangan.

Satu per satu makanan keluar. Paket makanan tradisional ini disebut kahvaltılık. Secara harfiah, kata kahvaltı berasal dari kata kahve (kopi) dan altı (di bawah/sebelum), yang berarti makanan yang dimakan sebelum minum kopi.

Paket ini mencakup berbagai macam hidangan. Di antaranya zaitun, keju, selai, madu, telur orak-arik, sosis Turki (sucuk), serta roti dan kue kering (poğaça). Teh hangat khas Turki menemani santap pagi jelang siang. Dan kopi menjadi hidangan penutup.

”Ini adalah bisnis keluarga. Kami sekeluarga ingin melanjutkan tradisi yang sudah dimulai oleh nenek kami dan dilanjutkan oleh ibu kami,” kata Yuksel Kukul, pengelola Velvet Cafe.

Aret, pemandu wisata rombongan, bercerita, kuliner tradisional Turki mencerminkan keragaman geografis dan hasil alamnya. Di wilayah selatan dan pesisir Mediterania, penggunaan minyak zaitun sangat dominan, melahirkan ragam meze (hidangan pembuka) dan makanan ringan berbasis sayuran.

Sementara itu, di kawasan timur yang lebih agraris dan beriklim keras, masakan lebih berfokus pada daging—terutama dalam bentuk kebab, istilah umum untuk berbagai olahan daging yang dipanggang atau dibakar, sering dipadukan dengan bahan seperti tomat, terong, atau kacang pistasio (pistachio).

Perbedaan iklim, tanah, dan sejarah panjang percampuran budaya membuat setiap wilayah—dari Anatolia Timur hingga Aegea dan Thrace—memiliki karakter dapur yang khas. Kota seperti Gaziantep dan Urfa dikenal sebagai pusat gastronomi, dengan cita rasa kuat, penggunaan rempah, dan tingkat kepedasan yang khas.

”Kekayaan kuliner Turki pada akhirnya merupakan hasil akumulasi ribuan tahun peradaban yang saling bertemu dan berbaur, menjadikannya salah satu tradisi kuliner paling beragam di dunia,” kata Aret.

Setelah menikmati santap pagi, rombongan melanjutkan perjalanan ke Masjid Süleymaniye, mahakarya Dinasti Ottoman. Masjid megah itu dibangun selama periode 1520-1566. Sebagaimana halnya masjid-masjid keluarga kerajaan, terdapat rumah sakit, dapur umum, dan madrasah di dalam kompleks. 

Dari Masjid Süleymaniye, sekitar 10 menit berjalan kaki, terdapat masjid berukuran lebih kecil, yakni Masjid Rüstem Paşa. Salah satu keunikan masjid ini adalah interiornya yang dihiasi oleh ubin iznik dengan dominasi warna biru.

Masjid ini dibangun selama periode 1541-1563. Kedua masjid, Masjid Rüstem Paşa dan Masjid Süleymaniye, dibangun pada era Sultan Sulaiman dan hasil karya arsitektur kerajaan, yakni Mimar Sinan.

 

Masih napak tilas jejak kejayaan Ottoman, perjalanan disambung  ke Spice Bazaar atau Mısır Çarşısı, jantung ekonomi Istanbul sejak abad ke-17. Mendung yang beberapa saat sudah menggelayut di langit Istanbul, akhirnya mengguyurkan gerimis.

Hari sudah siang saat rombongan tiba di  pasar yang menjadi simpul perdagangan global pada masanya, terutama untuk komoditas rempah-rempah. Tidak seperti umumnya bangunan pasar di sejumlah negara, Mısır Çarşısı adalah pasar dengan bangunan yang tertutup.

Dari luar, penampakan bangunan lebih menyerupai bagian dari kompleks masjid: dinding batu tebal, jendela-jendela kecil berulang, dan pintu masuk berbentuk lengkungan. Koridor utama bangunan pasar dipenuhi kios yang tertata rapat.

Rempah-rempah disusun terbuka dalam tumpukan warna—merah paprika, kuning kunyit, hijau kering daun herbal. Secara visual, dagangan ini sendiri sudah menarik perhatian.

Ada juga lokum (Turkish delight), kacang-kacangan, teh, hingga buah kering. Banyak pedagang menawarkan tester kecil, potongan manisan atau segelas teh apel, cara yang sudah lama menjadi bagian dari budaya jual-beli di sini: interaksi dulu, transaksi belakangan.

Brother, come,” sapa seorang penjual mengundang rombongan masuk ke tokonya. Pengunjung asal Asia Tenggara sudah sangat jamak bagi pedagang di pasar ini. Tak jarang mereka menawarkan harga dalam bahasa Melayu atau Indonesia. Camilan dan teh gratis menjadi ikhtiar yang efektif membuat sebagian rombongan membeli oleh-oleh dari toko itu.

Menjelang sore, rombongan menuju Menara Galata, peninggalan koloni Genoa yang menjadi saksi persaingan kekuatan dunia sebelum era Ottoman. Dari Mısır Çarşısı, rombongan naik mobil. Jarak dari pasar ke Menara Galata sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi saat itu butuh sekitar 15 menit untuk sampai tujuan karena terjadi kemacetan di jalan.

Dibangun selama periode 507-508, Menara Galata adalah bangunan berbentuk silinder. Fungsinya adalah sebagai menara pertahanan dan pengawas pelabuhan. Dengan tinggi mencapai 67 meter dan diameter 16-17 meter, bangunan itu adalah yang tertinggi di Istanbul pada masanya. Dindingnya tebal,  sampai 4 meter di bagian bawah.

Gerimis tak kunjung berhenti saat rombongan dan wisatawan lain mengantre naik ke puncak menara. Antrean ini memanjang di luar menara, bukan di dalam menara. Jadi, wisatawan mengantre di bawah gerimis. Sebagian berlindung dengan payung, sebagian lagi harus berbasah-basah. Tapi itu semua tak seberapa dibandingkan pengalaman yang pengunjung dapat saat berada di lantai terasa menara.

Di lantai paling atas menara, pengunung bisa menyaksikan lanskap kota Istanbul dalam perspektif 360 derajat. Selat Bosphorus tampak di kejauhan memisahkan sekaligus menjahit Benua Asia dan Benua Eropa. Bukan hanya jalur lokal, selat sepanjang 30 kilometer itu adalah juga koridor internasional yang menghubungkan Laut Hitam dan Laut Marmara lantas berlanjut ke Laut Mediterania.

Setiap hari, ragam kapal melintas, mulai feri penumpang, wisata, kargo, kapal pribadi dan yacht, sampai militer. Vessel Traffic Services (VTS) Turki mengatur lalu lintas pelayaran setiap hari. Posisi strategis inilah yang, antara lain, menjadikan Istanbul diperebutkan oleh kekuatan global di masanya.

Masih dari Menara Gelata, Hagia Sophia, katedral Ortodoks pada era Bizantium, yang kini berfungsi sebagai masjid dan museum, tampak berdiri di puncak bukit. Posisinya di sebelah selatan Golden Horn. Menara Galata berdiri di utara Golden Horn.

Setelah Kontantinopel ditaklukkan Utsmani pada 29 Mei 1453, Hagia Sophia diubah fungsinya menjadi masjid. Pada 1935, Mustafa Kemal Atatürk, presiden pertama Republik Turki, mengubah fungsi Hagia Sophia menjadi museum. Perubahan ini merupakan bagian dari kebijakan sekularisasi Turki pada awal republik.

Pada 2020, Pemerintah Turki di bawah Presiden Recep Tayyip Erdoğan mengubah status Hagia Sophia kembali menjadi masjid. Fungsi ibadah Islam diaktifkan kembali, tetapi bangunan tetap terbuka untuk umum sebagai situs sejarah.

Rombongan menutup perjalanan hari itu dengan santap malam di sebuah restoran kebab. Pengalaman sejarah dan budaya dalam cita rasa Anatolia membentuk identitas kuliner Turki hingga hari ini, termasuk kebab.

Sementara itu, malam kian larut dan dingin makin menusuk tulang. Rombongan kembali ke penginapan. Dan Istanbul tidur, menyisakan sunyi dan lampu-lampu jalanan yang berjaga menunggu esok tiba.

Perjalanan wisata ke kota Istanbul di atas adalah bagian dari perjalanan rombongan wartawan dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang difasilitasi AirAsia dan Goturkiye. AirAsia X melayani rute Kuala Lumpur-Istanbul empat kali seminggu dengan kapasitas lebih dari 150.000 kursi per tahun menggunakan armada Airbus A330 berbadan lebar.

Sementara itu, Goturkiye adalah platform dan situs resmi promosi pariwisata global Turki, yang dikembangkan oleh Badan Promosi dan Pengembangan Pariwisata Turki (TGA) serta Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Platform ini berfungsi sebagai panduan digital terpadu (one-stop) yang dirancang untuk mempromosikan budaya, sejarah, dan destinasi wisata Turki ke seluruh dunia.

CEO AirAsia X, Benyamin Ismail, melalui siaran pers, menyatakan, Istanbul adalah salah satu destinasi yang paling banyak diminta oleh para penumpang. Dengan penerbangan langsung tersebut, AirAsia tidak hanya membuka sebuah rute, tetapi juga menghadirkan jembatan penting yang menghubungkan Asia Tenggara dengan Eropa.

”Didukung layanan Fly-Thru ke lebih dari 130 destinasi, kami siap membuka akses lebih luas bagi wisatawan Asean yang ingin berkunjung ke Turki dengan pilihan harga yang tetap ramah di kantong,” ujarnya pada acara peluncuran penerbangan perdana AirAsia rute Kuala Lumpur-Istanbul di Kuala Lumpur 12 Agustus 2025.

Duta Besar Republik Turki untuk Malaysia, Emir Salim Yüksel, pada kesempatan sama, menyatakan, konektivitas udara baru antara dua ujung benua ini akan memperkuat hubungan bilateral antara Turki dan Malaysia. Hal ini sekaligus memperluas cakrawala konektivitas global secara lebih luas.

”Koneksi baru antara Kuala Lumpur dan Istanbul ini adalah langkah nyata dalam memperkuat Kemitraan Strategis Komprehensif antara Malaysia dan Turki. Hal ini tidak hanya akan meningkatkan arus pariwisata, tetapi juga memperluas hubungan bisnis, mendorong kolaborasi industri, serta membuka jalur baru untuk pendidikan, inovasi, dan interaksi antarmasyarakat,” katanya. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kinerja Bareskrim Dipuji Usai Berhasil Ungkap Penyalahgunaan BBM Subsidi hingga TPPU Tambang Ilegal
• 53 menit laludisway.id
thumb
Kapolri Dipanggil Presiden Prabowo ke Hambalang, Bahas soal Apa?
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Efriza Sebut Kunjungan Gibran ke Daerah Baru Sebatas Seremoni
• 2 jam lalujpnn.com
thumb
Hyuma Kato Liberty Walk Main Ke Bandung, Iseng Jajal Simulator
• 11 jam lalumedcom.id
thumb
Polda Metro Turun Tangan Usut Kasus 2 PRT Loncat dari Lantai 4 Kos Majikan
• 3 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.