jpnn.com - Kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke berbagai daerah, termasuk ke wilayah Papua, dinilai masih jauh dari harapan masyarakat.
Peneliti Senior Citra Institute, Efriza, menyebut langkah sang Wapres sejauh ini baru sebatas kehadiran fisik yang bersifat seremonial.
BACA JUGA: Hubungan JK dan Simpatisan Jokowi-PSI Memanas, Efriza: Gibran Bisa Kena Getahnya
Efriza menyoroti agenda Gibran yang terlihat hanya diisi dengan agenda formal, seperti peninjauan fasilitas publik dan pertemuan seremonial dengan warga.
Sayangnya, kegiatan tersebut belum mampu menjawab persoalan krusial yang dihadapi masyarakat di lapangan.
BACA JUGA: Khalid Basalamah Bilang Begini Ditanya Aliran Korupsi Haji ke Pejabat Kemenag
"Hasil dan dampaknya seperti penyelesaian konflik di sejumlah wilayah Papua nyatanya tidak ada. Begitu pula penyelesaian masalah ekonomi dan transportasi yang hingga kini masih dikeluhkan masyarakat," kata Efriza kepada JPNN.com, Jumat (24/4).
Menurut Efriza, jika kehadiran Gibran tidak dibarengi dengan tindak lanjut nyata, maka dampaknya hanya bersifat simbolik bagi sang Wapres. Di satu sisi,
BACA JUGA: Diduga Terlibat Penyalahgunaan BBM Bersubsidi, 7 Polisi Diperiksa Propam
Gibran mungkin dinilai sebagai pemimpin yang peduli dan mau turun ke bawah, tetapi di sisi lain, rakyat belum merasakan "tangan" pemerintah pusat melalui kebijakan yang konkret.
"Masyarakat belum merasakan perhatian pemerintah pusat dalam misi dan kebijakan nyata. Dampak riil baru akan terasa bila kunjungan Gibran diikuti dengan kebijakan konkret, alokasi anggaran yang jelas, dan pengawasan ketat agar program menyentuh kebutuhan lokal," tegasnya.
Efriza menyayangkan pola kerja Gibran saat ini yang dianggap baru sebatas meninjau tanpa memberikan kemajuan nyata bagi kemaslahatan warga, khususnya di Papua.
Padahal, kunjungan seorang Wakil Presiden semestinya menjadi momentum emas untuk membangun kembali kepercayaan publik.
"Nyatanya efektivitasnya tidak dirasakan masyarakat karena tidak dibarengi dengan langkah kebijakan maupun misi penyelesaian masalah Papua," imbuh Efriza.
Ia pun mengkritik tajam fenomena di mana kehadiran pejabat pusat sering kali selesai begitu saja setelah seremoni berakhir. Sementara itu, kondisi masyarakat di daerah tetap memprihatinkan tanpa ada perubahan berarti.
"Pusat baru hadir secara fisik, tetapi belum hadir dalam upaya pembangunan Papua yang sesungguhnya. Sayangnya, Gibran cenderung sekadar meninjau, setelah seremoni selesai, nyatanya masyarakat tetap dalam kondisi yang memprihatinkan," pungkas Efriza.(mcr8/jpnn)
Video Terpopuler Hari ini:
Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Kenny Kurnia Putra




