MAKASSAR, FAJAR – Figur bakal calon Ketua Golkar Sulsel bertambah. Usman Marham berpeluang jadi kuda hitam.
Nama Usman Marham disebut-sebut layak masuk dalam bursa calon ketua. Karier politiknya di Golkar dinilai layak memimpin Golkar Sulsel. Diketahui, Usman Marham pernah menjadi pengurus DPP Golkar selama tiga periode.
Ia pernah mendampingi Aburizal Bakrie, Setya Novanto, hingga Airlangga Hartarto di DPP Golkar. Usman Marham juga memiliki modal besar, yakni akses langsung ke petinggi DPP Golkar.
Hal ini terlihat menjelang Musda Golkar Sulsel, Usman Marham bahkan bertemu dua kali secara langsung dengan Ketua Umum DPP Golkar Bahlil Lahadalia. Selain itu, dia juga adalah adik dari Idrus Marham yang merupakan Wakil Ketua DPP Golkar.
Pengamat Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar Prof Firdaus Muhammad menilai Usman Marham menjadi sosok yang bisa dipertimbangkan untuk maju pada Musda Golkar Sulsel. Pengalamannya sebagai pengurus DPP hingga DPD, jadi pertimbangan.
“Jadi kalau misalnya Pak Usman Marham yang di dorong oleh DPP itu ke lebihannya adalah lebih di kenal di tingkat DPP sehingga aspirasi-aspirasi dari daerah ini mudah tersalurkan di pusat,” jelas Firdaus, Kamis, 23 April 2026 .
Usman Marham juga sudah memahami konstelasi politik di pusat. Namun, namanya belum mengakar di Sulsel sehingga itu menjadi tantangan. Aksesnya yang langsung ke petinggi DPP Golkar menjadi modal besar untuk bertarung di Musda Golkar pekan depan.
“Ketika Usman Marham ikut berkontestasi (musda), tidak ada kesulitan beliau untuk berkoordinasi dengan DPD kabupaten/kota. Begitu juga sebaliknya DPD II bisa berkomunikasi dengan beliau bagaimana nantinya beliau itu lebih mudah akses ke DPP,” tambahnya.
Konsolidasi
Pengamat Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Sukri Tamma menilai, peluang adanya beberapa kandidat memungkinkan. Apalagi, DPP Golkar belum menunjukkan kecondongannya ke mana, sehingga semua upaya bisa dilakukan dengan cara terbuka, sebagai bentuk dari persaingan.
”Kita tahu Golkar, kan, ujungnya ditentukan oleh Ketua DPP. Jadi apa pun dinamika yang ada di bawah, itu bagian dari strategi masing-masing untuk mendapatkan dukungan dan memberi pengaruh pada keputusan DPP,” jelasnya.
Alasannya, jika melihat fenomena Golkar selama ini, figur yang mendapat banyak dukungan DPD II belum tentu terpilih. Namun begitu, bisa saja dukungan mayoritas DPD II menjadi pertimbangan sendiri bagi DPP.
”Tentu kandidat yang didukung banyak voters, pengharapannya DPP melihat itu sebagai jalan mensolidkan kader. Tapi bisa juga sisi lainnya, misal kinerjanya, prosesnya dan seterusnya, yang akan mendapatkan dukungan DPP. Sekarang kan sedang berlomba meyakinkan DPP,” ucap Sukri.
Meskipun sejauh ini dukungan DPD II condong kepada Appi, itu juga harus dijaga dengan baik. Sehingga, soliditas yang terbangun benar-benar terwujud hingga ke tingkatan paling bawah.
”Kan, tidak otomatis suara terbanyak dari bawah nantinya menjadi ketua. Karena tentu ada pertimbangan DPP. Jadi sekali lagi, ini hanya upaya untuk mencari dukungan, mencoba untuk menunjukkan untuk mempengaruhi arah keputusan DPP,” ungkapnya.
Sementara Usman Marham membeberkan, sebenarnya dia pihaknya tidak ingin maju pada Musda Golkar Sulsel. Namun, jika ada dorongan dari DPP, ia akan mengikuti perintah.
“Sepanjang DPP memberikan peluang, membuka sinyal untuk saya, kenapa tidak!?” ucapnya kepada FAJAR, kemarin.
Dia mengakui, memang tidak pernah ada keinginan untuk maju pada Musda Golkar Sulsel, namun ia memiliki niat untuk mengembalikan Golkar menjadi pemenang di Sulsel.
“Memang saya tidak pernah nyatakan mau maju. Saya memang tidak pernah menggadang-gadang saya maju,” tegas Ketua DPD II Golkar Pinrang itu. (ams-wid/zuk)





