Said Aqil Siroj: Butuh Rekalibrasi Spiritual untuk Dunia Lebih Baik

liputan6.com
13 jam lalu
Cover Berita

 

Liputan6.com, Jakarta - Kecanggihan teknologi dengan kompleksitasnya, telah melahirkan tantangan baru bagi kehidupan manusia. Di satu sisi kemajuan teknologi memunculkan peradaban unggul, namun di sisi lain juga memunculkan risiko eksistensial (existential risk), dehumanisasi, demoralisasi. Bahkan dalam jangka panjang, jika tidak terkendali dan disalahgunakan, sangat memungkinkan menjadi senjata bagi genosida manusia dan penghancuran peradaban.

Advertisement

BACA JUGA: Soal Situasi di Timur Tengah, Lembaga Persahabatan Ormas Islam Serukan Kemandirian Bangsa

Realitas ketegangan geopolitik dan ancaman perang duniaketiga, baik yang dipicu karena kompetisi persenjataan modern maupun akibat konflik kepentingan, telah nyata mengacaukan stabilitas global dan melahirkan disharmoni dunia. Kehidupan yang damai dan harmonis menjadi terancam. Dunia membutuhkan pendekatan baru yang cerdas, cepat dan jitu untuk mensolusikan dan menjawab berbagai problematika kehidupan global dan kompetisi teknologi yang semakin canggih dan kompleks.

Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) sebagai Asosiasi Ormas Islam Indonesia, bersama Kuil Mii Dera Kyoto Jepang dan Sakuranesia menggelar Peace Dialogue di Kyoto Jepang, Senin (20/4/2026), yang diselenggarakan di Kuil Miidera Jepang. Pararel dengan hal tersebut, juga dilaksanakan Penandatanganan Kerjasama dengan Tenma Hospital Group untuk Pengembangan Rumah Sakit, Riset dan Pengembangan Stem Cell serta Pelayanan Kesehatan Berbasis Pendekatan Spiritual & Natural Medicine.  

Ketua Umum LPOI Said Aqil Siroj dalam keterangan resminya menyampaikan, dunia tengah memasuki babak baru dengan berbagai kemajuan, dinamika dan kompleksitasnya. Kompetisi global dan konflik kepentingan antar blok peradaban yang semakit ketat dan telah memicu peperangan serta telah merugikan masa depan kemanusiaan dan perdamaian.

"Butuh rekalibrasi spiritual untuk mewujudkan tatanan dunia yang lebih baik," katanya.

Lebih jauh dirinya mengatakan, dibutuhkan pendekatan baru yang mampu menyelaraskan kembali, memperbaiki orientasi, nilai-nilai dan tatanan yang telah ada menjadi tatanan dunia yang lebih baik. LPOI menawarkan solusi global berbasis pendekatan 'Spiritual and Natural Lifestyle', yakni kembali ke spiritualitas dan kembali ke alam sebagai pilar utama penyangga kemanusiaan dan perdamaian.

Said Aqil Siroj yang juga Mustasyar PBNU dan sesepuh Nahdlatul Ulama menegaskan, dengan kembali ke spiritualitas, manusia akan menjadi sadar, bahwa semua manusia adalah saudara yang mendapat tugas yang sama dari Tuhan, untuk memakmurkan dunia dan menjaganya dengan damai. Dan dengan kembali ke alam, manusia akan menjadi sadar betapa pentingnya melestarikan bumi dan jagat raya sebagai rumah bersama umat manusia. Kesadaran ini tentunya harus diletakkan sebagai core value bagi semua gaya hidup (life style) dan cara pandang (life of view) serta dasar bagi semua tindakan dalam kehidupan manusia.

"Internalisasi nilai-nilai ini harus ditanamkan sejak dini dan terus menerus kepada semua generasi, agar misi perdamaian dan kemanusiaan dapat terwujud serta terjaga sepanjang masa," katanya.

Kaum agamawan dari semua agama tidak boleh tinggal diam. Kini saatnya bergerak dan tidak boleh terlambat untuk menata kembali dunia yang tengah diambang perpecahan.

"Bangsa Indonesia wajib dan harus senantiasa hadir, secara aktif dan cerdas dengan penuh keberanian dan dengan langkah-langkah yang strategis, untuk mensolusikan berbagai persoalan dan dinamika global," katanya.

Hal ini, kata Said Aqil, selaras dengan komitmen bangsa Indonesia dan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Hal tersebut juga selaras dengan misi manusia diciptakan Allah, agar menjadi rahmat bagi semesta alam.

Dalam Kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) Gus Imam Pituduh mengatakan, pendekatan 'Spiritual and Natural Lifestyle' selain sebagai solusi atas krisis global, keberadaannya diharapkan mampu menjadi jembatan penghubung (connecting bridge) bagi semangat persaudaraan sebagai sesama manusia, yang selama ini telah terkotak kotak dalam berbagai bentuk perbedaan dan konflik kepentingan.

"Pendekatan ini diharapkan mampu menjadi jalan alternatif dan sekaligus sebagai jalan keluar (alternative and exit way) dari semua pendekatan yang telah ada, dalam bentuk yang lebih genuine dan lebih solutif, serta tidak terjebak dalam blok-blok peradaban tertentu," ungkapnya.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hari Bumi 2026, Telkom Mempertegas Langkah Strategis Menuju Masa Depan Berkelanjutan
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Perlawanan Sipil di Iran Meningkat, Para Negosiator Dilaporkan Diculik; Trump dan Pihak Lain Berupaya Menyusun Rencana Terpadu
• 6 jam laluerabaru.net
thumb
Mengintip Workshop Allurion Balloon, Inovasi Wellness untuk Penderita Obesitas
• 14 jam laluherstory.co.id
thumb
SPPG Diminta Gunakan Pangan Lokal agar Tekan Lonjakan Harga Bahan Baku
• 7 jam lalukompas.com
thumb
Jajal Kamera Motorola Signature di Bus Wisata Jakarta
• 29 menit lalumedcom.id
Berhasil disimpan.