Perlawanan Sipil di Iran Meningkat, Para Negosiator Dilaporkan Diculik; Trump dan Pihak Lain Berupaya Menyusun Rencana Terpadu

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Di tengah kekhawatiran publik terhadap masa depan perundingan AS–Iran, media Amerika Serikat mengungkap bahwa terhambatnya putaran kedua perundingan terutama disebabkan oleh perpecahan kekuasaan yang serius di dalam Iran. Korps Garda Revolusi Islam dilaporkan menyandera delegasi negosiasi.

Meski situasi kacau, analis menilai bahwa perundingan belum sepenuhnya gagal. Hal ini karena kondisi ekonomi Iran yang terus memburuk dapat memaksa semua pihak kembali ke meja perundingan.

Presiden Donald Trump pada Selasa (21 April) mengumumkan bahwa, mengingat perpecahan serius dalam pemerintahan Iran, pihak AS memutuskan untuk memperpanjang masa gencatan senjata hingga Iran dapat mengajukan proposal negosiasi yang terpadu.

Namun, televisi Iran pada Rabu (22 April) menyatakan bahwa Teheran belum memberikan tanggapan atas usulan perpanjangan tersebut.

Berbagai sumber menunjukkan bahwa gagalnya perundingan disebabkan oleh perpecahan dalam struktur kekuasaan Iran. Kelompok garis keras yang diwakili Garda Revolusi berkonflik terbuka dengan pemerintah sipil.

Pembawa acara Fox News, Jesse Watters, mengungkapkan bahwa sebelum perundingan dimulai, Garda Revolusi telah menahan delegasi, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, yang semuanya dilaporkan berada dalam tahanan rumah.

Tanda-tanda situasi ini sebenarnya sudah muncul sebelumnya. Pada Jumat lalu, setelah Menteri Luar Negeri Araghchi mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz, Garda Revolusi tidak hanya menolak menjalankan kebijakan tersebut, tetapi juga secara terbuka mengkritiknya—menunjukkan ketegangan serius antara militer dan pemerintah.

Seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa terdapat perpecahan total antara tim negosiasi Iran dan pihak militer. Kedua pihak bahkan tidak dapat mengakses pemimpin tertinggi, yang juga tidak merespons tuntutan dari mana pun.

Sumber lain menyebutkan bahwa Trump tidak akan memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu.

Pemerintahan Trump menilai bahwa peluang tercapainya kesepakatan masih ada. Menurut laporan New York Post, Trump pada Rabu menyatakan bahwa putaran kedua perundingan dengan Iran “mungkin” dapat digelar paling cepat pada Jumat (24 April).

Komentator politik Li Linyi mengatakan bahwa kedua pihak saat ini masih saling menguji kekuatan. Jika Garda Revolusi bersedia membuat kompromi tertentu, peluang kesepakatan tetap ada. Ia juga menambahkan bahwa tekanan dari AS sangat besar, tidak hanya berupa ancaman serangan terhadap fasilitas Iran, tetapi juga kemungkinan menargetkan kelompok garis keras dalam rezim.

Di sisi lain, muncul kekhawatiran apakah dalam kondisi kekuasaan yang terpecah di Teheran saat ini masih ada figur yang memiliki otoritas cukup untuk mengambil keputusan final. Sementara itu, kondisi ekonomi Iran yang terus memburuk juga menjadi tantangan besar.

Reporter NTD Television Chen Yue dan Chang Chun melaporkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemadaman Listrik Massal di Jakarta, ESDM Duga Ada Masalah di Gardu
• 4 jam lalukatadata.co.id
thumb
Pria di Guangdong, Tiongkok Menyerang Secara Acak di Jalan Raya, Banyak Korban Terjatuh, Ada yang Tewas
• 5 jam laluerabaru.net
thumb
Gagasan Tol Selat Malaka Kandas? Malaysia-Singapura Tegas Tolak Pungutan Kapal
• 3 jam laludisway.id
thumb
Jadwal Salat DKI Jakarta 24 April 2026
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
KPK dalami peran Forum SATHU saat periksa Khalid Basalamah
• 17 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.