Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat ke posisi Rp17.282 pada perdagangan hari ini, Jumat (24/4/2026). Di sisi lain, pergerakan greenback juga mengalami apresiasi.
Rupiah dibuka menguat tipis 3,5 poin atau 0,02% ke Rp17.282 per dolar AS hingga pukul 09.07 WIB. Adapun, indeks dolar AS menguat 0,05% ke 98,82.
Sementara itu, mata uang di Asia dibuka bervariasi pada pembukaan perdagangan pagi ini. yen Jepang naik 0,07%, won Korea naik sebesar 2,34% dan Yuan China juga naik 0,01%. Sementara itu baht Thailand dan dolar Singapura terpantau melemah 0,02% dan 0,01% terhadap dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah hari ini diperkirakan akan bergerak fluktuatif dan cenderung bergerak melemah dibayangi sejumlah sentimen baik dalam maupun luar negeri.
"Kemungkinan besar di akhir April 2026, atau pekan depan tembus di Rp17.400 per dolar AS. Level Rp17.400 ini sebenarnya ekspektasi akhir 2026, tapi kenyataannya di bulan April ini sudah ada di level itu," kata Ibrahim kepada awak media, Kamis (23/4/2026).
Ibrahim menjelaskan rupiah tertekan oleh kondisi geopolitik global, di mana upaya damai Amerika Serikat (AS) dengan Iran menemui jalan buntu. Pekan ini mulanya AS dan Iran akan bertemu dan dimediasi oleh Pakistan, namun rencana tersebut gagal lantaran Iran tak datang.
Baca Juga
- IHSG Ditutup Merah di Tengah Pelemahan Rupiah, Saham BBRI & BMRI Cs Ambles
- Perang Amerika-Iran Kembali Panas, Rupiah Ditutup Loyo ke Rp17.286 per Dolar AS
- Stabilitas Jadi Prioritas, Bank Indonesia Siap Tempuh Upaya Lanjutan Demi Rupiah
Alasannya adalah karena Iran menganggap AS mengkhianati kesepakatan gencatan senjata dengan menangkap kapal tanker milik Iran di kawasan Selat Hormuz. Permintaan Doland Trump juga dinilai tak menguntungkan Iran, yaitu meminta menyetop pengayaan uranium dan menyerahkannya ke AS serta membebaskan tarif jalur Selat Hormuz.
"Iran siap melakukan perang dalam jangka panjang dan sudah tidak percaya lagi terhadap Amerika," ujarnya.
Bagai jatuh tertimpa tangga, kondisi fiskal domestik juga dalam posisi sulit menahan pelemahan rupiah. Perang global membuat harga minyak Brent bertengger di US$103 per barel dan minyak WTI di US$98 per barel. Padahal, dalam APBN 2026 harga minyak dunia ditaksir di level US$70 dan batas atas yang bisa ditolerir sebesar US$92 per barel.
Kondisi tersebut membuat pemerintah merogoh kocek lebih dalam sebagai negara net importir minyak. Dalam APBN 2026, pemerintah menetapkan rupiah ada di level Rp16.500 per dolar AS. Mahalnya harga minyak global berisiko terhadap pelebaran defisit APBN.
"IMF sudah mengatakan agar Indonesia tidak terlalu banyak mensubsidi barang-barang, sehingga ini akan membuat rupiah kembali mengalami pelemahan," tandasnya.





