Bursa Asia Melemah saat Harga Minyak Naik di Tengah Ketegangan AS-Iran

idxchannel.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bursa Asia cenderung melemah pada perdagangan Jumat (24/4/2026), di tengah sentimen pasar yang masih dibayangi ketidakpastian gencatan senjata di Timur Tengah.

Bursa Asia Melemah saat Harga Minyak Naik di Tengah Ketegangan AS-Iran. (Foto: Reuters)

IDXChannel – Bursa Asia cenderung melemah pada perdagangan Jumat (24/4/2026), di tengah sentimen pasar yang masih dibayangi ketidakpastian gencatan senjata di Timur Tengah serta mandeknya pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Indeks saham Asia-Pasifik di luar Jepang yang dirilis MSCI tercatat naik tipis 0,3 persen dan berpeluang menutup pekan dengan kenaikan sekitar 0,8 persen.

Baca Juga:
IHSG Dibuka Merah ke 7.378, Seluruh Sektor Tertekan

Di Jepang, indeks Nikkei 225 menguat 0,45 persen, sementara bursa di Korea Selatan, China, Hong Kong, Australia dan Singapura justru melemah.

Kontrak berjangka di AS alias Wall Street menunjukkan pergerakan beragam.

Baca Juga:
Gencatan Senjata Israel-Lebanon Diperpanjang 3 Pekan

Nasdaq futures menguat 0,6 persen dan S&P 500 futures naik 0,1 persen, meski pada sesi sebelumnya indeks acuan Wall Street ditutup melemah.

Di Eropa, kontrak berjangka EUROSTOXX 50 turun 0,65 persen dan FTSE futures terkoreksi 0,9 persen.

Baca Juga:
Restrukturisasi Grup, Surya Fajar (SFAN) Alihkan Kepemilikan Anak Usaha

Kondisi ini mencerminkan suasana pasar yang masih diliputi ketegangan. Investor bergerak naik-turun sepanjang pekan, antara harapan berakhirnya konflik dan kekhawatiran bahwa perang bisa berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Kepala strategi makro Asia Pasifik di Mizuho, Vishnu Varathan, menilai istilah gencatan senjata menjadi ambigu di tengah blokade dan ketegangan yang terus berlanjut.

Ia menyebut deeskalasi tidak akan berjalan secara linier, baik dari sisi konflik, harga minyak, maupun volatilitas pasar.

Ketegangan meningkat setelah Iran menunjukkan kendali atas Selat Hormuz melalui aksi militer di perairan tersebut.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memerintahkan Angkatan Laut untuk mengambil tindakan tegas terhadap kapal Iran yang menebar ranjau, sekaligus meningkatkan operasi pembersihan ranjau.

Padahal, beberapa hari sebelumnya, Trump sempat menyatakan akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu guna memberi ruang bagi negosiasi lanjutan.

Di pasar energi, harga minyak kembali menguat seiring berlanjutnya ketegangan di Selat Hormuz.

Minyak mentah Brent naik lebih dari 1 persen ke level USD106,21 per barel, sementara minyak mentah Amerika Serikat menguat 1 persen ke USD96,77 per barel.

Pasar relatif mengabaikan kabar perpanjangan gencatan senjata antara Lebanon dan Israel selama tiga pekan setelah pertemuan tingkat tinggi di Gedung Putih.

Sementara itu, perhatian investor juga tertuju pada serangkaian keputusan bank sentral pekan depan. Federal Reserve (The Fed), European Central Bank (ECB), dan Bank of England (BOE) dijadwalkan mengumumkan kebijakan moneter, dengan fokus pada dampak konflik terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Kepala strategi valas di Rabobank, Jane Foley, mengatakan lonjakan harga energi berpotensi menekan permintaan, sehingga bank sentral negara maju kemungkinan lebih berhati-hati dalam menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.

Di Asia, Bank of Japan (BOK) juga akan menggelar rapat kebijakan dan diperkirakan mempertahankan suku bunga. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemenhan Ungkap Kebijakan Pertahanan Indonesia Defensif Aktif
• 2 jam lalurepublika.co.id
thumb
Pengamat Nilai Usulan Pembatasan Masa Jabatan Ketum Bakal Ditolak Parpol
• 41 menit lalukompas.com
thumb
Jemaah Haji Indonesia Mulai Berangkat Melalui Makkah Route, Layanan Kian Mudah dan Terintegrasi
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Taktik Bernardo Tavares Remuk Klub Kaya Raya Malut United: Menang Tanpa Ernando dan Bruno Moreira
• 17 jam laluharianfajar
thumb
KPK Usulkan Pembatasan Masa Jabatan Ketum Parpol
• 10 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.