FAJAR, JAKARTA — Persaingan menuju gelar juara Super League 2025/2026 kini memasuki fase paling krusial. Dengan musim yang semakin mendekati garis akhir, peta persaingan kian mengerucut. Tiga tim utama—Persib Bandung, Borneo FC, dan Persija Jakarta—masih memiliki peluang, meski dengan tingkat probabilitas yang berbeda. Namun di balik semua itu, ada dua tim yang berpotensi menjadi “pengganggu” terbesar dalam perburuan gelar: Persija Jakarta dan PSM Makassar.
Persib Bandung sebagai juara bertahan saat ini masih memimpin klasemen dengan koleksi 65 poin. Ambisi mereka untuk meraih hattrick gelar tentu bukan hal mustahil. Namun, perjalanan menuju trofi musim ini tidak akan mudah. Enam laga sisa yang harus dijalani mayoritas menghadirkan lawan-lawan tangguh, termasuk duel klasik yang sarat gengsi.
Dalam waktu dekat, Persib akan menghadapi Arema FC di kandang sendiri. Secara statistik dan performa, Maung Bandung memang lebih diunggulkan, terlebih mereka pernah menang 2-1 di pertemuan pertama. Dukungan penuh Bobotoh juga diyakini akan menjadi faktor penting dalam laga tersebut.
Namun, tantangan sesungguhnya justru datang setelah itu. Persib harus bertandang ke markas Bhayangkara FC, sebelum menjamu PSIM Yogyakarta. Dua laga ini di atas kertas masih bisa diamankan, meski tetap menyimpan potensi kejutan, terutama melihat PSIM yang mampu menahan Persija di laga sebelumnya.
Puncak ujian Persib justru terletak pada dua laga beruntun melawan rival klasik: Persija Jakarta pada 10 Mei dan PSM Makassar pada 17 Mei. Dua pertandingan ini berpotensi menjadi penentu arah juara.
Menghadapi Persija di kandang lawan bukan perkara mudah. Rivalitas panjang kedua tim selalu menghadirkan tensi tinggi. Dalam kondisi Persija yang tengah berjuang menjaga asa juara, laga ini bisa berubah menjadi “final kecil” yang penuh tekanan. Sangat realistis jika Persib kehilangan poin di laga ini.
Setelah itu, Persib harus bertandang ke markas PSM Makassar—tim yang tengah menunjukkan kebangkitan signifikan. Dengan performa yang semakin solid dan kepercayaan diri yang meningkat, PSM berpotensi menjadi batu sandungan serius bagi ambisi Persib. Hasil imbang bahkan kekalahan bukanlah skenario yang mustahil bagi tim asuhan Bojan Hodak.
Jika skenario tersebut terjadi, maka jalur Persib menuju gelar akan semakin terjal. Meski diprediksi tetap mampu menutup musim dengan kemenangan atas Persijap Jepara, total poin mereka diperkirakan berhenti di angka 77.
Di sisi lain, Borneo FC yang berada di posisi kedua dengan selisih tipis terus menempel ketat. Dengan sisa jadwal yang relatif lebih “ramah”, Pesut Etam berpotensi mengumpulkan hingga 74 poin. Meski demikian, mereka juga harus menghadapi beberapa laga sulit seperti melawan Bali United dan Malut United yang bisa menghambat laju mereka.
Sementara itu, Persija Jakarta menjadi kuda hitam yang masih memiliki peluang, meski lebih kecil. Dengan 59 poin dan sisa lima pertandingan, Macan Kemayoran harus tampil sempurna jika ingin menjaga asa juara tetap hidup.
Yang menarik, Persija juga memiliki peran ganda dalam perburuan gelar ini. Selain berusaha mengejar poin, mereka juga bisa menjadi “penentu nasib” Persib. Laga kontra Persib pada 10 Mei akan menjadi salah satu pertandingan paling krusial musim ini.
Jika Persija mampu mengalahkan Persib, maka bukan hanya mereka menjaga peluang sendiri, tetapi juga membuka jalan bagi Borneo FC untuk mendekat. Sebaliknya, jika gagal, maka Persib akan semakin sulit dikejar.
PSM Makassar juga berada dalam posisi serupa. Meski tidak lagi menjadi kandidat juara utama, performa mereka yang mulai stabil menjadikan mereka ancaman nyata. Kemenangan penting atas Persik Kediri menjadi bukti bahwa PSM telah menemukan kembali ritme permainan mereka.
Dengan dukungan penuh suporter di Stadion BJ Habibie, PSM memiliki potensi besar untuk menjegal langkah Persib saat kedua tim bertemu. Dalam situasi di mana setiap poin sangat berharga, hasil imbang saja sudah cukup untuk mengguncang posisi puncak klasemen.
Situasi ini membuat perburuan gelar menjadi semakin menarik. Persib memang masih berada di posisi terdepan, tetapi jalannya tidak lagi mulus. Setiap pertandingan kini ibarat final, di mana kesalahan kecil bisa berakibat fatal.
Gelandang Persib, Marc Klok, menyadari betul situasi tersebut. Ia menegaskan pentingnya fokus penuh pada setiap laga yang tersisa.
“Semua tahu situasi kita, semua tahu yang penting adalah (pertandingan) besok,” kata Klok.
Ia juga menekankan ambisi tim untuk bangkit setelah hasil imbang sebelumnya. “Dan kita sangat senang untuk main lagi dan di waktu yang sangat cepat karena kita kemarin imbang.”
Tak ada pilihan lain bagi Persib selain meraih kemenangan, terutama di laga kandang. “Kita ingin kemenangan di kandang. Kita butuh menang dan kita sangat antusias untuk besok,” tegasnya.
Pada akhirnya, musim ini tidak hanya ditentukan oleh konsistensi tim papan atas, tetapi juga oleh kemampuan mereka melewati “jebakan” dari tim-tim yang siap merusak rencana.
Persija Jakarta dan PSM Makassar kini berada di posisi strategis sebagai pengganggu. Mereka mungkin bukan favorit utama, tetapi justru memiliki peran penting dalam menentukan siapa yang akan mengangkat trofi di akhir musim.
Dalam kompetisi yang seketat ini, satu hasil imbang saja bisa mengubah segalanya. Dan di sinilah letak dramanya—bahwa juara tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi juga siapa yang mampu bertahan dari tekanan hingga detik terakhir.
Laga Sisa Persib, Borneo FC, dan Persija di Super League:
Persib Bandung
- Persib vs Arema (24/4)
- Bhayangkara FC vs Persib (30/4)
- Persib vs PSIM (4/5)
- Persija Jakarta vs Persib (10/5)
- PSM vs Persib (17/5)
- Persib vs Persijap (22/5)
Borneo FC
- Borneo FC vs Semen Padang (25/4)
- Persik vs Borneo FC (29/4)
- Borneo FC vs Persita (5/5)
- Bali United vs Borneo FC (11/5)
- Persijap vs Borneo FC (17/5)
- Borneo FC vs Malut United (23/5)
Persija Jakarta
- Persija Jakarta vs Persis (27/4)
- Persijap vs Persija (4/5)
- Persija vs Persib (10/5)
- Persik vs Persija (16/5)
- Persija vs Semen Padang (23/5)





