PT Timah (Persero) Tbk (TINS) membukukan lonjakan laba bersih sebesar 119 persen dari target pada 2025 menjadi Rp 1,31 triliun. Kinerja ini ditopang kenaikan harga timah global serta optimalisasi operasional dan efisiensi biaya.
“Perseroan fokus ke penguatan tata kelola pertimahan, optimalisasi kinerja operasi, pemasaran, dan keuangan,“ ujar Direktur Utama TINS, Restu Widiyantoro, dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (24/4).
Pendapatan TINS tercatat Rp 11,55 triliun pada 2025, naik 6,41 persen dibandingkan tahun sebelumnya Rp 10,86 triliun. Laba usaha mencapai Rp 1,91 triliun dengan EBITDA sebesar Rp 2,76 triliun.
Dari sisi neraca, total aset meningkat 6,75 persen menjadi Rp 13,64 triliun dari Rp 12,78 triliun. Sementara ekuitas naik 10,83 persen menjadi Rp 8,41 triliun.
Kenaikan kinerja keuangan sejalan dengan harga timah global yang meningkat. Sepanjang 2025, harga rata-rata timah di London Metal Exchange (LME) mencapai USD 34.119,96 per ton, naik 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, kinerja operasional mengalami tekanan. Produksi bijih timah turun 4 persen jadi 18.635 ton, sementara produksi logam timah turun 6 persen menjadi 17.815 metrik ton.
Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya masih masifnya penambangan ilegal terutama pada lokasi pesisir oleh Ponton Isap Produksi (PIP) maupun tambang darat dan adanya penolakan masyarakat pada lokasi penambangan baru.
Penjualan logam timah juga turun 5 persen menjadi 16.634 metrik ton. Harga jual rata-rata logam timah sebesar USD 35.240 per metrik ton, naik 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD 31.181 per metrik ton.
Pada tahun 2025, TINS mencatatkan penjualan logam timah domestik sebesar 5 persen dan ekspor logam timah sebesar 95 persen dengan 6 besar negara tujuan ekspor meliputi Singapura 23 persen, Korea Selatan 21 persen, Jepang 17 persen, Belanda 7 persen, Italia 3 persen, dan China 3 persen.
Kontribusi penjualan ekspor Perseroan mencapai sekitar 24 persen dari total ekspor timah Indonesia sebesar 53.050 metrik ton, serta menyumbang sekitar 3 persen dari total ekspor timah global sebesar 371.369 metrik ton.
Ke depan, TINS menargetkan pemulihan kapasitas produksi dan penguatan hilirisasi pada 2026, seiring prospek harga timah yang masih tinggi dan permintaan dari sektor elektronik serta teknologi energi.





