Tokyo (ANTARA) - Tingkat radiasi yang "sangat tinggi" terdeteksi di dalam reaktor No. 2 di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi yang rusak, menurut hasil investigasi yang diterbitkan oleh Tokyo Electric Power Company Holdings (TEPCO), operator pembangkit tersebut, pada hari Kamis.
Insiden ini menandai pertama kalinya sejak kecelakaan nuklir pada 2011 di PLTN Fukushima Daiichi bahwa TEPCO berhasil mengukur tingkat radiasi di dalam reaktor yang mengalami pelelehan inti (core meltdown).
Menurut lembaga penyiaran publik NHK, investigasi tersebut dilakukan pada 16 April. Sebuah fiberscope yang dilengkapi dengan instrumen pengukur dimasukkan ke dalam reaktor melalui pipa. Pada titik sekitar 5 meter di atas dasar reaktor, tingkat radiasi terukur sekitar 4,7 sievert per jam, yang diklasifikasikan sebagai "sangat tinggi".
TEPCO menyatakan bahwa temuan tersebut menunjukkan adanya sejumlah puing-puing nuklir yang masih tersisa di dalam reaktor No. 2. Perusahaan itu akan menganalisis data tersebut lebih lanjut dan mempelajari metode untuk membersihkannya.
Reaktor No. 1 hingga No. 3 di PLTN Fukushima Daiichi seluruhnya mengalami core meltdown setelah fasilitas dengan enam reaktor tersebut pada 2011 diguncang gempa bumi bermagnitudo 9,0 dan disusul tsunami, sehingga meninggalkan sekitar 880 ton puing nuklir.
Material dengan kadar radioaktif tinggi tersebut menimbulkan risiko yang signifikan, dan pembersihannya dianggap luas sebagai salah satu tantangan terberat yang dihadapi dalam proses penonaktifan PLTN tersebut.
Insiden ini menandai pertama kalinya sejak kecelakaan nuklir pada 2011 di PLTN Fukushima Daiichi bahwa TEPCO berhasil mengukur tingkat radiasi di dalam reaktor yang mengalami pelelehan inti (core meltdown).
Menurut lembaga penyiaran publik NHK, investigasi tersebut dilakukan pada 16 April. Sebuah fiberscope yang dilengkapi dengan instrumen pengukur dimasukkan ke dalam reaktor melalui pipa. Pada titik sekitar 5 meter di atas dasar reaktor, tingkat radiasi terukur sekitar 4,7 sievert per jam, yang diklasifikasikan sebagai "sangat tinggi".
TEPCO menyatakan bahwa temuan tersebut menunjukkan adanya sejumlah puing-puing nuklir yang masih tersisa di dalam reaktor No. 2. Perusahaan itu akan menganalisis data tersebut lebih lanjut dan mempelajari metode untuk membersihkannya.
Reaktor No. 1 hingga No. 3 di PLTN Fukushima Daiichi seluruhnya mengalami core meltdown setelah fasilitas dengan enam reaktor tersebut pada 2011 diguncang gempa bumi bermagnitudo 9,0 dan disusul tsunami, sehingga meninggalkan sekitar 880 ton puing nuklir.
Material dengan kadar radioaktif tinggi tersebut menimbulkan risiko yang signifikan, dan pembersihannya dianggap luas sebagai salah satu tantangan terberat yang dihadapi dalam proses penonaktifan PLTN tersebut.





