Bisnis.com, BANDUNG - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turut menyoroti maraknya kemunculan ikan sapu-sapu di sejumlah sungai sebagai tanda memburuknya kualitas lingkungan perairan.
Menurut Dedi, ikan sapu-sapu justru berkembang pesat di perairan yang telah tercemar. Karena itu, penanganannya tidak cukup hanya dengan penangkapan atau pemusnahan.
“Ikan sapu-sapu di seluruh daerah silakan saja diambil atau ditangkap. Tapi perlu dipahami, ikan ini tumbuh ketika kualitas sungai sudah menurun,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).
Ia menjelaskan, dominasi ikan sapu-sapu merupakan indikator bahwa ekosistem perairan tidak lagi sehat. Dalam kondisi tersebut, ikan-ikan endemik yang semestinya hidup di sungai justru tidak mampu bertahan.
“Kalau kualitas sungai menurun, maka yang bertahan hidup hanya sapu-sapu,” katanya.
Dedi menegaskan, ada dua langkah yang harus berjalan beriringan untuk mengatasi persoalan ini secara menyeluruh. Pertama, mengendalikan populasi ikan sapu-sapu melalui penangkapan. Kedua, memperbaiki kualitas air agar habitat kembali mendukung kehidupan ikan lokal.
Baca Juga
- Fenomena Ledakan Populasi Ikan Sapu-sapu, Ini Dampaknya ke Ekosistem
- Mengapa Ikan Sapu-Sapu Dianggap Berbahaya untuk Ekosistem Sungai? Ini Penjelasannya
- Pemprov DKI Kubur Ikan Sapu-sapu Hidup-hidup, MUI: Tidak Sesuai Prinsip Islam
“Kalau ingin sapu-sapu hilang, ada dua hal: ikannya diangkat, dan kualitas airnya diperbaiki supaya ikan endemik bisa hidup lagi,” tegasnya.
Ia menambahkan, fenomena ini hampir pasti ditemukan di wilayah dengan tingkat pencemaran air yang tinggi. “Di daerah yang airnya sudah tercemar, biasanya yang tersisa memang hanya sapu-sapu,” ucapnya.
Terkait langkah di Jawa Barat, Dedi menyebut upaya penangkapan sebenarnya sudah lebih dulu dilakukan oleh masyarakat secara mandiri.
“Selama ini warga Jabar juga sudah banyak yang mengambil ikan sapu-sapu,” pungkasnya.





