EtIndonesia. Struktur perdagangan antara AS dan Partai Komunis Tiongkok (PKT) sedang mengalami titik balik. Data terbaru menunjukkan bahwa defisit perdagangan AS terhadap PKT serta porsi impor dari PKT sama-sama menurun, kembali ke tingkat 20 tahun lalu. Hal ini memicu perhatian apakah kebijakan tarif dan penyesuaian rantai pasok yang didorong Presiden Donald Trump selama bertahun-tahun mulai menunjukkan hasil nyata.
Hubungan ekonomi dan perdagangan AS–PKT mengalami perubahan penting. Perwakilan Dagang AS menyatakan bahwa pada 2025, defisit perdagangan barang AS terhadap PKT turun menjadi sekitar 200 miliar dolar AS—terendah sejak 2004. Sementara itu, porsi barang PKT dalam total impor AS turun menjadi sekitar 9%, juga merupakan level terendah sejak 2001.
Penurunan kedua indikator ini secara bersamaan dipandang sebagai sinyal penting perubahan struktur perdagangan antara kedua negara.
Di saat yang sama, arah investasi perusahaan AS juga menunjukkan perubahan. Pada kuartal keempat 2025, pesanan barang modal terus meningkat, melampaui 4 miliar dolar AS per bulan, kembali ke tingkat sebelum PKT bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia, yang menunjukkan bahwa investasi manufaktur mulai kembali.
Para analis menilai bahwa perubahan ini bukan sekadar siklus ekonomi biasa, melainkan berkaitan erat dengan kebijakan.
Para ahli menyebut bahwa kenaikan tarif telah meningkatkan biaya masuk barang PKT ke pasar AS, memaksa perusahaan meninjau ulang penempatan rantai pasok, sehingga sebagian industri mulai berpindah atau kembali ke AS.
Profesor ekonomi dari Universitas South Carolina, Xie Tian, mengatakan bahwa ini adalah hasil dari perang dagang dan kebijakan tarif Trump. Ia menyatakan bahwa penurunan ke level tahun 2004 atau 2001 menunjukkan bahwa tren keuntungan besar PKT dari pasar AS mulai berbalik.
Ia juga menambahkan bahwa penyempitan defisit perdagangan mencerminkan perubahan arus modal. Sebelumnya, defisit besar berarti aliran modal dari AS ke PKT yang mendukung ekspansi industri PKT. Kini, dengan menyusutnya defisit, siklus tersebut ikut melemah.
Dari sisi industri, analis melihat bahwa penyesuaian rantai pasok sudah mulai berlangsung. Baik dengan memindahkan produksi kembali ke AS maupun ke negara lain, tujuan utamanya adalah mengurangi ketergantungan pada satu sumber.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa pemulangan manufaktur tidak bisa terjadi secara instan. Perusahaan masih harus mempertimbangkan biaya, tenaga kerja, dan infrastruktur, sehingga restrukturisasi rantai pasok akan menjadi proses jangka panjang.
Reporter NTD Television Yi-Hsin dan Chiu Yue melaporkan.





