Kudus: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menyiapkan dua mobil tangki dan 12 unit tandon air berkapasitas 2.500 liter untuk antisipasi dampak kekeringan. Upaya tersebut sebagai salah satu cara mengatasi kesulitan air bersih warga desa setempat.
"Nantinya tandon air 'mobile' tersebut bisa ditempatkan di sejumlah desa yang warganya mengalami kesulitan air bersih," kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Kudus Eko Hari Djatmiko di Kudus, Jumat, 24 April 2026, melansir Antara.
Dengan adanya tandon air tersebut, dia berharap warga tidak perlu lagi menunggu distribusi air bersih dari BPBD datang ke lokasi, cukup mengambil dari tandon air yang disediakan di desanya.
Baca Juga :
270 RW di Cimahi Rawan Kekeringan, BPBD Siapkan AntisipasiUntuk daerah rawan kekeringan, antara lain di sejumlah desa di Kecamatan Undaan, Kaliwungu, Mejobo, dan Jekulo. Sedangkan desa yang sebelumnya langganan kesulitan air bersih saat musim kemarau sudah ada yang melakukan antisipasi secara mandiri dengan menyiapkan program penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas). Koordinasi Lintas Sektor Antisipasi Kekeringan Sementara itu, Bupati Kudus Sam'ani Intakoris menambahkan selain kesiapan BPBD, Pemkab Kudus juga mengantisipasi potensi musim kemarau ekstrem dengan berkolaborasi lintas sektor, mulai dari PDAM hingga sektor swasta untuk memastikan ketersediaan air bersih di daerah terdampak.
"Upaya ini difokuskan pada titik-titik rawan kekeringan agar distribusi bantuan air dapat dilakukan secara efektif," ujarnya.
Pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, PDAM, kecamatan, pemerintah desa, hingga sektor swasta untuk memastikan ketersediaan air bersih.
Ilustrasi Pexels
Sejumlah wilayah seperti Kecamatan Kaliwungu dan Undaan diperkirakan menjadi daerah yang paling terdampak musim kemarau, meski beberapa kawasan lain juga tetap dipantau. Pemkab Kudus juga mendorong peran aktif desa dalam menyiapkan cadangan air secara mandiri, seperti melalui pengadaan tandon air atau Pamsimas.
"Kalau desa sudah siap secara mandiri, itu justru lebih baik. Pemerintah tinggal memperkuat dan membantu jika dibutuhkan," ujar Sam'ani.




