FAJAR, MAKASSAR — Pada operasional haji 1447 H/2026 M, Kementerian Agama Republik Indonesia menghadirkan sejumlah perubahan, khususnya di Embarkasi Makassar. Sebanyak 16.750 jemaah dari delapan provinsi di Indonesia Timur akan mendapatkan dua fasilitas utama, yakni Kartu Nusuk dan layanan Makkah Route (fast track).
Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sulsel, Ikbal Ismail, memastikan Kartu Nusuk akan dibagikan kepada jemaah sebelum keberangkatan dari Embarkasi Makassar. Kebijakan ini berbeda dibanding tahun sebelumnya, di mana kartu tersebut baru diterima saat tiba di Arab Saudi.
“Jadi sebelum jemaah berangkat, kartu Nusuk sudah di tangan jemaah,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Menurut Ikbal, distribusi di dalam negeri bertujuan mempermudah proses keberangkatan dan mempercepat layanan setibanya di Tanah Suci. Kartu Nusuk sendiri merupakan identitas digital berbentuk smart card yang diterbitkan oleh pemerintah Arab Saudi.
Di dalam kartu tersebut tersimpan berbagai data penting jemaah, mulai dari nama, nomor paspor, hingga informasi hotel. Kartu ini juga dilengkapi QR code atau chip yang akan dipindai petugas untuk proses verifikasi.
“Fungsinya untuk mencegah jemaah ilegal dan menjadi identitas resmi selama ibadah haji. Jadi wajib dibawa ke mana pun,” jelasnya.
Tak hanya itu, tahun ini proses pemeriksaan imigrasi Arab Saudi melalui skema Makkah Route juga dilakukan lebih awal di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Jika sebelumnya pemeriksaan dilakukan di Jeddah atau Madinah, kini jemaah bisa menyelesaikan proses tersebut sebelum berangkat.
Kartu Nusuk tidak sekadar berfungsi sebagai identitas. Kartu ini menjadi bagian dari sistem layanan terintegrasi yang menghubungkan berbagai kebutuhan jemaah selama berada di Arab Saudi.
Mulai dari akses transportasi, akomodasi, hingga konsumsi, semuanya terhubung dalam satu sistem berbasis data. Dengan begitu, pelayanan menjadi lebih cepat, tepat, dan terarah.
Kartu ini juga menjadi syarat masuk ke area ibadah utama seperti Masjidil Haram. Dengan sistem validasi digital, pergerakan jemaah dapat diatur lebih tertib sekaligus mengurangi kepadatan.
Manfaatnya semakin terasa saat puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Dalam kondisi jutaan jemaah bergerak bersamaan, data pada kartu Nusuk membantu petugas mengatur mobilitas agar lebih aman dan terstruktur.
Selain itu, kartu ini juga berfungsi sebagai alat perlindungan. Jika jemaah tersesat, data dalam kartu dapat membantu petugas melacak dan mengarahkan kembali ke rombongan dengan lebih cepat.




/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2022%2F07%2F04%2Ff8a9ce04-f415-4bab-befb-07add71b7456.jpg)
