Perubahan Iklim Bawa Tantangan Baru Pengendalian Malaria

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Perubahan iklim yang kian nyata tidak hanya memicu bencana hidrometeorologi, tetapi juga menggeser peta risiko penyakit menular. Salah satu yang paling mengkhawatirkan adalah malaria, penyakit yang selama ini identik dengan wilayah tropis tertentu, kini berpotensi meluas seiring perubahan suhu, curah hujan, dan kelembapan.

Kondisi lingkungan yang berubah menciptakan habitat baru yang lebih kondusif bagi perkembangbiakan nyamuk Anopheles, vektor utama penularan malaria. Kenaikan suhu global, bahkan dalam skala kecil, dapat mempercepat siklus hidup nyamuk ini sekaligus mempercepat perkembangan parasit di dalam tubuhnya.

Sejumlah laporan telah menunjukkan adanya keterkaitan antara perubahan iklim dan peningkatan potensi malaria, salah satunya dari Lancet Countdown tahun 2021. Laporan tersebut mengidentifikasi 44 indikator dampak kesehatan yang terkait langsung dengan perubahan iklim.

Hasil laporan menunjukkan bahwa perubahan iklim memicu peningkatan potensi wabah demam berdarah dengue, chikungunya, dan zika. Wabah penyakit ini diprediksi akan meningkat pesat di negara-negara dengan indeks pembangunan manusia (IPM) yang sangat tinggi, termasuk Eropa. Sedangkan infeksi malaria akan meningkat di negara dengan IPM rendah, khususnya daerah dataran tinggi dengan cuaca relatif dingin.

Studi terbaru dari University of Copenhagen, Denmark, yang diterbitkan dalam Global Change Biology tahun 2025 juga mengonfirmasi bahwa perubahan iklim pada masa depan dapat menciptakan kondisi yang lebih menguntungkan bagi nyamuk malaria. Jutaan orang di sebagian besar wilayah Afrika pun akan lebih rentan terhadap gigitan nyamuk ini.

Penulis utama studi tersebut dari Departemen Ilmu Hewan dan Kedokteran Hewan University of Copenhagen, Tiem van der Deure mengemukakan, kondisi perubahan iklim yang menguntungkan nyamuk malaria akan meningkatkan risiko kesehatan bagi 200 juta hingga satu miliar orang di seluruh dunia.

Baca JugaPenularan Malaria Kian Tidak Terprediksi, Perubahan Iklim dan Migrasi Penduduk Jadi Pemicu

“Angka 200 juta merupakan perkiraan dengan asumsi tidak ada perubahan demografis, tetapi memperhitungkan dampak dari perubahan iklim. Skenario satu miliar mencakup pertumbuhan populasi yang signifikan," ujarnya dikutip dari Phys, Jumat (24/4/2026).

Dalam studi ini, tim peneliti membuat algoritma berbasis ribuan pengamatan nyamuk untuk memprediksi wilayah dengan kondisi iklim yang cocok bagi berbagai spesies. Hasilnya, dari enam spesies yang diteliti, tiga diperkirakan akan berkembang dan tiga lainnya tidak mengalami penurunan sehingga secara keseluruhan menjadi tren yang mengkhawatirkan.

Para peneliti menekankan, ketika malaria mulai muncul di wilayah baru, dampaknya bisa sangat berat bagi masyarakat setempat. Penduduk di daerah tersebut umumnya belum terbiasa menghadapi penyakit ini dan memiliki tingkat kekebalan yang rendah.

Upaya saat ini difokuskan pada penurunan kasus di Papua.

Perubahan iklim ikut memperumit situasi karena memengaruhi penyebaran nyamuk pembawa malaria. Setiap spesies nyamuk merespons perubahan lingkungan dengan cara berbeda sehingga pola penularan menjadi semakin sulit diprediksi.

Di tengah proyeksi yang mengkhawatirkan, peluang untuk menekan risiko tetap terbuka jika upaya pengendalian dilakukan sejak sekarang. Van der Deure menegaskan, skenario iklim menunjukkan bahwa sebagian besar dampak dapat dicegah apabila perubahan iklim berhasil dibatasi, termasuk dengan memenuhi target Persetujuan Paris (Paris Agreement).

Eliminasi malaria

Upaya untuk mengeliminasi malaria juga terus dilakukan oleh Indonesia dan menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sampai saat ini sebanyak 412 dari total 514 kabupaten/kota atau sekitar 80 persen dari seluruh wilayah di Indonesia telah berhasil mencapai status eliminasi malaria,

Baca JugaMalaria dan ”Stunting”, Beban Ganda Kesehatan

Anggota Tim Penilai Eliminasi Malaria Kementerian Kesehatan Sri Budi Fajariyani mengatakan, meski ada peningkatan signifikan, upaya eliminasi malaria masih menghadapi sejumlah tantangan utama. Salah satunya adalah tingginya kasus di wilayah Papua yang hingga kini menyumbang lebih dari 90 persen dari total kasus malaria secara nasional.

“Oleh karena itu, upaya saat ini difokuskan pada penurunan kasus di Papua. Selain itu, kita juga menghadapi beberapa kejadian luar biasa (KLB) di daerah yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai wilayah eliminasi malaria,” tuturnya dalam Seminar Hari Malaria Sedunia Tahun 2026, Jumat (24/4/2026).

Selain itu, tantangan lainnya yakni adanya populasi khusus yang berpindah-pindah atau mobile migrant population (MMP), terutama di wilayah hutan di Kalimantan dan Sumatera. Kelompok ini sulit diakses dan ditemukan sehingga turut menjadi tantangan dalam upaya pengendalian malaria.

Menurut Fajariyani, capaian nasional menunjukkan tren peningkatan dalam penemuan kasus. Pada 2024, total penemuan kasus tercatat sebanyak 4,3 juta dan meningkat menjadi 8,3 juta pada 2025. Kenaikan ini dipengaruhi oleh akselerasi deteksi kasus, khususnya di wilayah Papua, melalui penerapan strategi temukan, obati, dan kendalikan.

Ia menekankan, kegiatan pemeliharaan menjadi krusial setelah suatu wilayah berhasil mencapai eliminasi malaria. Upaya pengendalian tidak berhenti pada pencapaian tersebut, melainkan saat memasuki fase baru yang menuntut konsistensi dan kewaspadaan tinggi.

Baca JugaMalaria Bisa Menurunkan Kemampuan Belajar Anak di Masa Depan

Langkah ini penting karena satu kasus indigenous atau penularan lokal saja dapat memicu KLB. Oleh sebab itu, kegiatan pemeliharaan difokuskan untuk mencegah munculnya kembali penularan malaria karena nyamuk sebagai vektor penyakit masih tetap ada di lingkungan.

“Saat ini terdapat 19 kabupaten/kota yang telah memperoleh sertifikat eliminasi, namun kembali mengalami KLB. Hal ini menjadi pelajaran agar wilayah lain tidak mengalami hal serupa,” ungkapnya.

Dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Universitas Gadjah Mada (UGM) Risalia Reni Arisanti juga menyoroti terkait mobilitas mahasiswa dari daerah endemis yang bisa menjadi faktor risiko utama malaria impor di lingkungan kampus. Kondisi ini perlu dicermati dengan melakukan surveilans terstruktur untuk deteksi dini.

Baca JugaEliminasi Berbasis Pendekatan Lokalitas Terus Diperkuat

Selain itu, integrasi layanan primer melalui kolaborasi antara integrasi layanan primer (ILP) Klaster 4 dan klinik kampus dinilai penting untuk memperkuat jaringan pemantauan. Pemanfaatan sistem informasi juga menjadi tulang punggung dalam memastikan pelaporan kasus dapat dilakukan secara cepat dan real-time.

Sebagai langkah tindak lanjut, pembentukan tim surveilans malaria terpadu di setiap klinik kampus perlu dilakukan, disertai kewajiban skrining bagi mahasiswa baru dari daerah endemis. Setiap kasus yang ditemukan wajib dilaporkan dalam waktu kurang dari 24 jam dengan dilengkapi penyelidikan epidemiologi dan respons yang memadai.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prakiraan Cuaca 24 April: Hujan Masih Guyur Sejumlah Kota Besar
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
KPK Usul Masa Jabatan Ketum Partai Dibatasi, Demokrat: Diatur Internal Parpol
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Ketahanan Pangan RI Cetak Sejarah Baru, Stok Beras Nasional Tembus 5 Juta Ton
• 23 jam laludisway.id
thumb
Kejagung Tetapkan 3 Tersangka Baru Kasus Pengelolaan Tambang Ilegal Samin Tan
• 20 jam laluliputan6.com
thumb
Polisi Duga PRT Lompat dari Kos di Benhil karena Tak Betah lalu Mau Kabur
• 23 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.