Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons soal nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp 17.300 per dolar AS pada Kamis (23/4). Pada Kamis (24/4) pukul 16.00 WIB, rupiah terhadap dolar AS ada di Rp 17.229.
Purbaya mengatakan persoalan nilai tukar itu merupakan kewenangan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas. Meski begitu, ia menilai pelemahan rupiah saat ini bukan disebabkan memburuknya kondisi ekonomi domestik. Menurutnya, dibandingkan dengan negara lain, fundamental ekonomi Indonesia masih tergolong kuat.
“Dibanding negara lain kita masih kuat. Bahkan dibanding Malaysia, Thailand dan lain-lain masih kuat. Cuma gerakan nilai tukarnya beda kan,” kata Purbaya dalam Media Briefing di BPPK Purnawarman Kampus, Jakarta Selatan, Jumat (24/4).
Purbaya menuturkan pergerakan nilai tukar rupiah juga dipengaruhi oleh kondisi global dan ekspektasi pasar. Katanya, berbagai sentimen di dalam negeri turut membentuk ekspektasi tersebut.
“Jadi kita mesti mengendalikan ekspektasinya sebetulnya. Cuman itu bukan daerah saya, jadi saya enggak bisa masuk ke sana,” ujar Purbaya.
Purbaya juga menanggapi kabar yang berkembang di luar negeri kalau Indonesia sengaja melemahkan rupiah untuk meningkatkan daya saing ekspor, atau dikenal dalam teori sebagai beggar-thy-neighbor policy.
“(Katanya) Kita sengaja memperlemah nilai tukar. Akibatnya barang-barang mereka (negara lain) kalah bersaing. Saya bilang enggak begitu. Ini kita jalankan sesuai dengan fundamental yang ada,” ucapnya.
Purbaya menuturkan dalam jangka pendek sentimen negatif dapat terbentuk, terutama jika muncul persepsi bahwa rupiah akan terus melemah. “Tapi saya bilang sih, kalaupun mentalnya (rupiah) kuat seperti itu, untuk membaliknya tidak terlalu rumit,” tutur Purbaya.





