Menembus Kampus Impian dengan Integritas

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Berkuliah di perguruan tinggi negeri tetap menjadi pilihan utama bagi sebagian besar lulusan SMA/SMK sederajat. Mencoba satu kali, dua kali, bahkan tiga kali untuk tembus di kampus impian, tetap dilakukan banyak calon mahasiswa, namun dengan tetap menjaga integritas.

Di tengah godaan kecurangan dengan iming-iming lulus ke kampus impian, tawaran perjokian ataupun menyelundupkan alat teknologi digital canggih tetap dapat ditepis banyak peserta ujian tulis berbasis komputer-seleksi nasional berdasarkan tes atau UTBK-SNBT tahun 2026.

Padahal, persaingan ketat dengan jumlah pendaftar sebanyak 871.496 peserta untuk memperebutkan sekitar 260.000 kursi di perguruan tinggi negeri (PTN) akademik dan vokasi.  

Jarum jam menunjukkan pukul 13.00 WIB. Sejumlah petugas UTBK-SNBT di Gedung A  Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) di Depok, Jawa Barat, mulai bergerak dan meminta peserta yang tersebar untuk berkumpul.  Sesi kedua di hari keempat pelaksanaan UTBK, Jumat (24/4/2026), bakal segera dimulai.

Baca JugaKecurangan Peserta UTBK Makin Canggih, dari Kamera di Behel hingga ”Remote Desktop”

Seorang petugas dengan pengeras suara meminta peserta berbaris sesuai lokasi ujian, diatur perempuan berbaris di bagian depan, sedangkan laki-laki di bagian belakang.

Handphone tolong jangan di-silent, tapi dimatikan. Jam tangan, ikat pinggang, dan topi dilepas, ditaruh di dalam tas. Hanya alat tulis dan dokumen dengan map plastik bening yang bisa dibawa ke dalam ruangan ujian,” kata petugas.

Satu per satu peserta dipanggil ke meja petugas untuk dicek kelengakapan dokumennya. Setelah itu, tiap peserta diperiksa dengan metal detector (pendeteksi logam) di seluruh tubuh, sampai akhirnya diperbolehkan menaiki tangga menuju lantai dua ruang ujian.

Sebagian peserta yang diantar orangtua sempat melambaikan tangan dengan senyum mengembang. Bahkan ada yang sempat berpegangan tangan secara singkat dengan ayah atau ibu yang dengan cepat menghampiri di depan anak tangga menuju ke lantai dua.

“Semangat, Nak. Kamu bisa,” demikian ucapan yang terdengar dari sejumlah orangtua yang hadir saat menyaksikan anak mereka bergegas menuju ruang ujian.

Agni (19), merasa percaya diri untuk menjalani UTBK, meski ini sudah kedua kalinya. Pada tahun 2025, ia sempat patah semangat saat tidak lolos jalur prestasi. Ketika ikut UTBK, ia belum sepenuh hati sehingga merasa tidak optimal berjuang meraih kampus impiannya, kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI.

Agni menyadari hanya lewat seleksi secara nasional, ia bisa membidik kampus impiannya. Keluarganya tak mampu jika harus membayar kuliah di PTN lewat jalur mandiri yang umumnya wajib ada uang sumbangan pengembangan institusi atau iuran pengembangan institusi.  

Tetap jujur

Demi mewujudkan mimpinya menjadi mahasiswa di kampus nomor satu di Indonesia, Agni tidak hanya mempersiapkan diri untuk belajar pada masa gap year (lulus SMA tahun 2025, namun tidak kuliah). Ia pun ingin menjalani prosedur ujian dari pendaftaran hingga ujian dengan jujur.

“Saya tidak kepikiran mau curang. Apalagi pakai joki, kan kalau sampai ketahuan jadi sia-sia bayar mahal. Mending uang yang ada difokuskan untuk bayar bimbingan belajar supaya diri semakin mampu ngerjain soal. Jangan deh sampai curang, apalagi pakai joki,” kata Agni.

Tekad Agni menjalankan UTBK dengan integritas penuh didukung oleh orangtuanya. Yati, ibu dari Agni, bahkan tidak keberatan menemani anak bungsunya tersebut naik kereta dari kawasan Jatinegara, Jakarta Timur untuk ujian di UI Depok.

Saya tidak kepikiran mau curang. Apalagi pakai joki, kan kalau sampai ketahuan jadi sia-sia bayar mahal. Mending uang yang ada difokuskan untuk bayar bimbingan belajar supaya diri makin mampu ngerjain soal. Jangan deh sampai curang, apalagi pakai joki.

“Ternyata perjalanan dengan kereta cepat, sekitar 40 menit. Tadi sampai pukul 09.30, padahal nanti selesai ujian lebih dari pukul 16.00 WIB. Tidak apa-apa, biar anak tenang dan bisa tembus ke kampus impiannya,” ujar Yati.

Baca JugaJaringan Joki, Bimbel, dan Orang Dalam Mencurangi UTBK

Ibu Yati pun duduk di kursi yang tersedia sambil membuka telepon seluler saat anaknya ujian. “Sambil berdoa juga, supaya anak saya tahun ini bisa lulus di PTN,” katanya.

Sementara Efraim Sinaga (19), yang menyebut dirinya semi gap year, juga berjuang untuk tembus di kampus impiannya di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ketika tak lulus di UTBK tahun lalu, Efraim memilih bertahan di Jakarta dan berkuliah di Institut Teknologi PLN di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat.

“Persiapan untuk UTBK kedua ini kebanyakan otodidak. Sempat ikut bimbel online pas libur semester saja. Soalnya, pas kuliah kan sibuk ya, apalagi ada praktikum. Tapi saya mencoba yang terbaik saja,” ujar Efraim yang keluarganya tinggal di Medan, Sumatera Utara.

Menjaga integritas saat ujian juga menjadi tekad Efraim. Ia percaya jika rezeki, ia akan lulus. Jika tidak lolos kedua kali, bagi Efraim ini merupakan pertanda ia harus serius menuntaskan kuliah di teknik elektro di kampusnya saat ini.

“ Saya berprinsip kalau mau sesuatu, ya berusaha sendiri. Jika rezeki yang diberikan Tuhan, pasti akan kita dapat. Mau pakai joki sekalipun, jika tidak rezekinya kuliah di PTN, ya tidak dapat. Malah rugi uang, dan tambah buruk nama jika ketahuan. Kalau saya lolos kali ini, Puji Tuhan. Kalau tidak, juga tidak apa-apa. Bersyukur orangtua mendukung apa pun pilihan saya,” ujar Efraim.

Tidak terpikir dalam benak Efraim untuk memilih jalur mandiri ITB. Ia tak ingin membebani orangtuanya dengan biaya kuliah yang jauh lebih tinggi dibandingkan kampusnya saat ini.

“Ada teman saya yang lolos jalur mandiri ITB, tapi akhirnya tidak diambil karena kendala biaya. Jika tetap harus di kampus swasta yang saat ini, saya mau seriusi, karena ada peluang untuk bisa langsung kerja,” ujar Efraim.

Atika (19), peserta semi gap year lainnya, masih tetap memibidik kampus impiannya karena ingin berkuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat UI. Kegagalan ikut UTBK maupun tes mandiri tak menghalanginya untuk mengulang kembali di tahun ini.

“Penasaran saja, ingin mencoba lagi. Semoga bisa lolos. Kalaupun tidak ya, tetap lanjut kuliah di kampus saat ini,” kata Agni yang kuliah di program studi Fisika Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tahun 2025 lewat jalur mandiri.

Tidak hanya lulusan gap year atau semi gap year yang gigih berjuang. Luh Putu yang lulus tahun 2026 ini bertekad bisa lolos UTBK supaya kuliah di Politeknik Negeri Jakarta. Ia memilih perguruan tinggi vokasi sesuai arahan dari guru Bimbingan Konseling di sekolahnya karena peluang di voaksi cukup besar dan lulusannya lebih siap kerja.

“Saya ingin banget ya kuliah di PTN. Apalagi kemarin yang jalur prestasi tidak lolos. Saya tetap fokus dengan kemampuan sendiri, meskipun ada isu peserta yang mencoba curang. Pokoknya berusaha yang terbaik dengan jujur,” ujar Luh.

Antisipasi modus kecurangan

Peningkatan integritas pelaksanaan seleksi nasional masuk PTN menjadi komitmen Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB).  

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto yang melaksanakan kunjungan kerja di Universitas Tanjungpura, Kalimantan Barat, Jumat ini,  menjelaskan pelaksanaan UTBK secara umum lancar dengan sistem pengawasan makin ketat sehingga mampu mencegah kecurangan.

“Hari keempat, Alhamdulillah tentu sudah sangat lancar dibandingkan hari pertama. Dari berbagai pengalaman, panitia sudah mengantisipasi seluruh potensi kecurangan,” ungkapnya dalam keterangan pers.

Baca JugaPanitia: Kecurangan UTBK Dapat Diantisipasi

Brian menegaskan komitmen Kemendiktisaintek dan panitia SNPMB untuk menjaga integritas seluruh proses UTBK-SNBT. Penegakan aturan ini dinilai penting untuk memastikan keadilan bagi seluruh peserta.

“Terus menerus kita ingatkan, bahwa modus kecurangan apa pun pasti akan diketahui oleh panitia. Kejahatannya akan diproses sesuai ketentuan hukum. Jadi untuk adik-adik calon mahasiswa, silahkan mengikuti ujian dengan baik, percaya dengan kemampuan diri sendiri,” tegas Brian.

 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bareskrim Tetapkan Pendakwah SAM Jadi Tersangka Dugaan Pelecehan Santri
• 11 jam laludetik.com
thumb
Dorong Kemasan Non-Plastik, Kemenperin Bidik Efisiensi dan Daya Saing Industri Makanan-Minuman
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
PLTS 100 GW dan Ekosistem Kendaraan Listrik Jadi Motor Baru Ekonomi Hijau
• 16 jam lalubisnis.com
thumb
Akhir Pelarian Duo Jambret di Jakpus yang Sasar Warga Jerman
• 15 jam laludetik.com
thumb
Penampakan Dua Kereta Tabrakan, Sejumlah Penumpang Terluka
• 16 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.