Penulis: Fityan
TVRINews, Karachi
Tiga ribu kontainer tertahan di Pakistan saat ketegangan Selat Hormuz memuncak.
Di tengah tekanan blokade angkatan laut Amerika Serikat yang kian mencekik, Teheran mulai menjajaki rute darat alternatif untuk menyelamatkan ribuan kontainer kargo yang terdampar di Pelabuhan Karachi, Pakistan.
Dokumen internal yang diperoleh Al Jazeera mengungkap adanya pembicaraan intensif antara pemimpin industri Pakistan dan pejabat pemerintah Iran, Menyusul ketidakpastian operasional di Selat Hormuz, jalur logistik vital yang kini menjadi titik pusat konfrontasi ekonomi global.
Chokehold Ekonomi dan Tekanan Washington
Disrupsi ini merupakan bagian dari strategi tekanan sistematis di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
Analis menilai langkah ini bukan sekadar upaya menghentikan perdagangan, melainkan instrumen kendali penuh atas napas ekonomi Iran.
"Iran sedang runtuh secara finansial," tulis Trump melalui unggahan di Truth Social. "Mereka ingin Selat Hormuz segera dibuka mereka sangat membutuhkan uang tunai!"
Sejak 13 April, blokade angkatan laut AS secara efektif menghentikan pelayaran kapal-kapal yang menuju atau meninggalkan pelabuhan Iran.
Dampaknya tidak hanya memukul ekspor energi, tetapi juga memutus akses Iran terhadap barang-barang impor esensial.
Javed Hassan, penasihat di Centre for Research and Security Studies (CRSS) Islamabad, menjelaskan bahwa kendali ekonomi ini bisa lebih mematikan daripada kekuatan militer langsung.
"Pendapatan ekspor, yang merupakan jalur fiskal negara, akan terkontraksi tajam. Meskipun Iran telah meningkatkan kapasitas pertanian domestik, ketahanan pangan mereka masih bergantung sebagian pada impor dan devisa," ujar Hassan kepada Al Jazeera.
Navigasi di Jalur yang 'Tercekik'
Meskipun Selat Hormuz secara resmi tidak ditutup, Iran menerapkan sistem akses selektif. Teheran mengizinkan kapal dari negara mitra seperti Pakistan dan Irak melintas, namun kapal yang terafiliasi dengan AS atau Israel ditolak mentah-mentah.
Laporan dari Lloyd’s List menyebutkan bahwa beberapa kapal bahkan harus membayar biaya transit hingga US$2 juta (sekitar Rp31 miliar) dalam bentuk Yuan atau mata uang kripto untuk menghindari sistem pelacakan Dollar AS.
Hamidreza Haji-Babaei, Wakil Ketua Parlemen Iran, mengonfirmasi bahwa pendapatan dari pungutan kapal di Hormuz telah mulai masuk ke Bank Sentral Iran.
Namun, bagi kargo non-migas, risikonya terlalu besar. Mohammed Rajpar, Ketua Asosiasi Agen Kapal Pakistan, mencatat lonjakan premi asuransi risiko perang dari 0,12% menjadi 5% dari nilai kapal.
"Untuk kapal pengangkut minyak mentah senilai US$100 juta, itu berarti premi sebesar US$5 juta untuk satu kali transit," kata Rajpar. Bagi kapal kontainer dengan margin keuntungan yang tipis, angka ini tidak masuk akal secara bisnis.
Ketahanan dalam Krisis
Di tengah kebuntuan maritim, rencana jalur darat sepanjang 900 km melintasi perbatasan Pakistan-Iran menjadi opsi paling rasional.
Truk-truk Pakistan direncanakan mengangkut kargo hingga perbatasan sebelum dipindahkan ke transportasi Iran.
Mantan Duta Besar Pakistan, Jamil Ahmed Khan, memperingatkan bahwa ketergantungan Iran pada impor bahan bakar olahan dan biji-bijian membuat mereka sangat rentan terhadap inflasi dan gejolak publik jika blokade ini bertahan lama.
Kendati demikian, Javed Hassan mengingatkan agar dunia tidak meremehkan "arsitektur ketahanan" yang telah dibangun Iran selama puluhan tahun di bawah sanksi.
Iran diperkirakan memiliki cadangan 170 juta barel minyak di kapal tanker yang sudah berada di laut lepas, siap menopang pendapatan untuk beberapa bulan ke depan.
"Dalam konflik seperti ini, pihak yang bertahan paling lama adalah pemenangnya," pungkas Hassan mengutip filosofi ketahanan Ho Chi Minh. "Logika itu yang kini digunakan Teheran."
Editor: Redaksi TVRINews





