Namun, Henan Asset menegaskan, dinamika MSCI tidak berhenti pada pengumuman tersebut.
IDXChannel - Tekanan arus dana keluar (outflow) dari pasar saham Indonesia pasca pengumuman MSCI belakang menjadi sorotan pelaku pasar.
Di balik sentimen negatif tersebut, riset terbaru dari PT Henan Putihrai Asset Management (Henan Asset) mengungkap adanya potensi arus beli paksa (forced buying) yang berpotensi terjadi pada awal Juni 2026.
Dalam laporan bertajuk Tactical Alert MSCI Semi-Annual Index Review Mei 2026 yang dirilis 23 April 2026, Henan Asset menilai pasar saat ini cenderung hanya memfokuskan perhatian pada potensi outflow akibat penghapusan sejumlah saham dari indeks MSCI.
"Pasar hampir sepenuhnya terfokus pada outflow, padahal mekanisme indeks yang sama juga menciptakan potensi inflow yang bersifat metodologis," tulis hasil riset tersebut, dikutip Jumat (24/4/2026).
MSCI sebelumnya mengumumkan dua kebijakan utama untuk peninjauan indeks semesteran (Semi-Annual Index Review/SAIR) Mei 2026. Pertama, saham dengan status High Shareholding Concentration (HSC) akan dikeluarkan dari indeks.
Kedua, seluruh penyesuaian positif terhadap saham Indonesia (termasuk kenaikan bobot) dibekukan sementara, sementara penyesuaian negatif tetap berjalan.
Kebijakan ini memicu estimasi outflow pasif sekitar USD380 juta dari dana ETF global yang melacak indeks MSCI Indonesia dan MSCI Emerging Markets.
Namun, Henan Asset menegaskan, dinamika MSCI tidak berhenti pada pengumuman tersebut. Mereka membagi peristiwa ini ke dalam tiga fase yakni pengumuman pada 12 Mei 2026, periode forced selling hingga akhir Mei, dan fase paling krusial pada 1 Juni 2026 saat bobot baru mulai berlaku efektif. Pada fase terakhir inilah potensi forced buying muncul.
"ETF global yang berada dalam posisi underweight terhadap bobot MSCI yang baru tidak memiliki pilihan selain melakukan pembelian untuk menyesuaikan portofolio," tulis Henan Asset.
Analisis Henan Asset terhadap tujuh ETF global dengan total dana kelolaan sekitar USD73,9 miliar menemukan adanya pola rotasi yang tidak seragam. Salah satu temuan paling menonjol berasal dari ETF terbesar, ACWI US, yang justru tidak menambah kepemilikan pada sejumlah saham Indonesia selama dua periode berturut-turut.
Akibatnya, beberapa saham kini berada dalam kondisi underweight struktural terhadap target indeks MSCI.
Henan Asset mengidentifikasi enam saham dalam kategori tersebut, termasuk PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Kedua saham ini dinilai memiliki karakteristik teknis yang mendukung potensi terkena efek forced buying.
BRPT tercatat telah lama menjadi konstituen MSCI dengan kapitalisasi pasar free float sekitar USD2,7 miliar dan tidak masuk dalam daftar HSC. Sementara TPIA, yang masuk indeks sejak 2024, memiliki kapitalisasi sekitar USD3,0 miliar dengan penyesuaian faktor inklusi asing (FIF) yang relatif kecil.
Henan Asset menilai, jika MSCI tidak melakukan penurunan signifikan terhadap bobot kedua saham tersebut dalam pengumuman resmi Mei, maka kombinasi posisi underweight ETF dan stabilnya bobot indeks dapat memicu pembelian paksa pada awal Juni.
Untuk memperkuat analisis, laporan ini juga menyoroti pola serupa pada PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), yang berasal dari sektor berbeda namun menunjukkan perlakuan yang sama oleh ETF.
"Konsistensi pola ini menunjukkan bahwa fenomena underweight bukan kebetulan, melainkan bagian dari positioning sistematis ETF," tulis laporan tersebut.
Meski demikian, Henan Asset menegaskan skenario forced buying ini bersifat kondisional dan tidak secara langsung merefleksikan arah pergerakan harga saham. Realisasinya akan sangat bergantung pada keputusan akhir MSCI pada 12 Mei 2026, khususnya terkait perlakuan terhadap faktor inklusi asing (FIF), serta kondisi pasar global dan perkembangan regulasi transparansi kepemilikan di Indonesia.
Henan Asset menyimpulkan pasar berpotensi belum sepenuhnya mencerminkan seluruh dimensi dampak dari perubahan indeks MSCI kali ini, terutama sisi arus masuk yang bersifat teknis namun signifikan.
(Dhera Arizona)





