Permintaan domestik di Tiongkok terus melemah, sementara tekanan pada konsumsi dan investasi semakin besar, menjadi faktor yang menahan laju pertumbuhan ekonomi. Untuk mendorong pemulihan, otoritas Tiongkok kembali menggelar forum dengan perusahaan swasta. Perluasan permintaan domestik menjadi topik utama, dengan harapan perusahaan swasta meningkatkan investasi dan mempertahankan tenaga kerja guna meredakan tekanan pengangguran. Namun analis menilai, selama kecenderungan “negara maju, swasta mundur” tidak berubah, sektor swasta akan tetap berhati-hati dalam berinvestasi.
EtIndonesia. Demi memacu ekonomi, National Development and Reform Commission (NDRC) secara intensif mengadakan forum dengan perusahaan swasta. Sejak Maret, ini merupakan pertemuan ketiga, dan pada 20 April kembali digelar dengan fokus pada peningkatan permintaan domestik.
Peserta forum kali ini mencakup pimpinan perusahaan dari berbagai sektor seperti material logam, kendaraan energi baru, layanan kawasan industri, sumber daya mineral, dan tekstil. NDRC menyatakan ingin mendengar pandangan perusahaan mengenai kondisi ekonomi saat ini serta cara menghadapi perubahan lingkungan eksternal yang kompleks.
Profesor dari Aiken School of Business, University of South Carolina, Xie Tian, mengatakan bahwa frekuensi tinggi pertemuan ini menunjukkan situasi ekonomi Tiongkok semakin serius. Ia menilai pemerintah yang mengandalkan BUMN dan peran negara dalam mendorong ekonomi tampak tidak cukup efektif, sehingga kembali mencari dukungan dari sektor swasta.
Kolumnis Wang He menyebutkan tiga akar masalah lemahnya permintaan domestik: pertama, rendahnya proporsi pendapatan disposabel masyarakat dalam PDB; kedua, kesenjangan kekayaan yang besar; dan ketiga, meningkatnya utang rumah tangga, terutama dari kredit perumahan. Hal-hal ini membuat permintaan domestik menjadi kendala utama bagi pertumbuhan ekonomi.
Ia menambahkan, sejak 2022 pemerintah telah mengeluarkan ratusan kebijakan untuk mendukung sektor swasta, tetapi tidak membuahkan hasil. Menurutnya, yang dibutuhkan pelaku usaha bukan sekadar insentif sementara, melainkan pengakuan atas hak-hak mereka serta kepastian posisi dalam sistem ekonomi.
Pemerintah juga menekankan konsep “kekuatan produktif baru”, mendorong perusahaan swasta untuk berinvestasi dalam sektor strategis seperti semikonduktor, kecerdasan buatan, dan energi baru, guna menembus pembatasan teknologi Barat dan mencari sumber pertumbuhan baru.
Namun, Wang He menilai kebijakan seperti integrasi militer-sipil justru membuat perusahaan swasta enggan terlibat, karena mereka dipandang sebagai pihak yang perlu diawasi. Faktor ideologi yang mengakar dalam sistem dianggap menjadi hambatan terbesar yang sulit diubah.
Dalam beberapa tahun terakhir, gelombang regulasi terhadap sektor pendidikan, internet, dan properti telah berdampak besar pada lapangan kerja, terutama bagi kaum muda. Jumlah lulusan universitas pada 2026 diperkirakan mencapai rekor tertinggi, sementara tingkat pengangguran juga meningkat, menunjukkan pasar tenaga kerja sudah jenuh.
Wang He juga menyoroti bahwa kebijakan ekonomi terbaru bahkan menggunakan instrumen hukum yang dianggap membebani sektor swasta. Tahun lalu, investasi di Tiongkok mengalami kontraksi langka, baik dari perusahaan domestik maupun investasi asing, dan tren ini berlanjut hingga tahun ini, mencerminkan menurunnya kepercayaan pelaku usaha.
Meskipun frekuensi forum meningkat, lemahnya sistem jaminan sosial membuat masyarakat enggan berbelanja, sehingga forum semacam ini tidak langsung meningkatkan daya beli. Di sisi lain, pelaku usaha lebih mengutamakan kepastian hukum dan stabilitas kebijakan dibandingkan janji-janji verbal.
Selama pola “negara maju, swasta mundur” tidak berubah, perusahaan swasta cenderung tetap menunggu dan melihat sebelum mengambil keputusan investasi.
Pengamat Xie Tian menambahkan bahwa pemerintah berharap sektor swasta menjadi motor inovasi dan pertumbuhan, namun pelaku usaha enggan berpartisipasi karena risiko tinggi dan ketidakpastian pengembalian investasi. Ia bahkan menyebut sebagian kebijakan sebagai upaya “memanen” dari sektor swasta.
Pemerintah berharap forum-forum ini dapat mengirim sinyal dukungan kepada sektor swasta, memperbaiki ekspektasi pasar, dan memulihkan kepercayaan. Namun para analis menilai, krisis kepercayaan yang bersifat sistemik tidak dapat diselesaikan hanya dengan pertemuan semacam ini.
Diedit oleh Huang Yimei; Diwawancarai oleh Yi Ru – NTD





