Pesan Toleransi Bahlil di Acara Paskah Golkar: Apa Artinya Debat Tentang Suku?

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menekankan pentingnya toleransi dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Hal itu ia sampaikan dalam acara Pentas Musik dan Refleksi Paskah Nasional Partai Golkar 2026 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Jumat (24/4).

Bahlil menilai, perdebatan soal perbedaan identitas seperti suku dan asal daerah sudah tidak relevan di era modern saat ini.

“Di era modernisasi seperti sekarang, apa artinya kita berdebat tentang suku? Apa artinya kita berdebat tentang dari mana wilayah? Apa artinya kita berdebat tentang satu hitam, satu putih? Satu lurus rambut, satu keriting rambut? Bukan zamannya lagi,” kata Bahlil.

Ia menegaskan, nilai yang seharusnya dijunjung adalah saling mengasihi sesama manusia, sebagaimana diajarkan dalam ajaran agama.

“Tuhan mengajarkan kita untuk saling mengasihi sesama umat manusia,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Bahlil juga menyinggung sejarah Partai Golkar yang menurutnya lahir dari keberagaman, termasuk kontribusi dari organisasi berbasis Kristen.

“Partai Golkar dilahirkan pada bulan Oktober tahun ’64. Sebelum Partai Golkar hadir, itu namanya ada Sekber, Sekretariat Bersama. Ada 97 organisasi yang melahirkan Sekber, dan salah satu organisasi yang melahirkan Sekber dari 97 organisasi itu adalah Pemuda Intelijen Kristen Indonesia,” jelas dia.

Menurutnya, sejak awal Golkar tidak pernah membedakan latar belakang suku maupun agama anggotanya.

“Di Golkar tidak pernah membedakan di mana kau, dari mana kau berasal, suku apa, agama apa. Karena Golkar lahir untuk hadir dalam rangka memberikan karya nyata, seperti kasih menembus perbedaan,” ucapnya.

Bahlil juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah derasnya arus informasi, terutama di media sosial yang kerap memicu perpecahan.

“Perselisihan akan selalu diadu terus, perbedaan akan selalu diadu terus,” katanya.

Ia lalu mengutip semangat Sumpah Pemuda sebagai fondasi persatuan bangsa.

“Pada tanggal 28 Oktober tepat Sumpah Pemuda, itu telah kita mencanangkan: kita boleh berbeda-beda tapi kita telah bersepakat, kita telah bersumpah, bahwa kitalah satu nusa, satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa yaitu Indonesia,” ujar dia.

Bahlil menambahkan, perbedaan agama tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bersatu sebagai sesama manusia.

“Katakanlah kalau kita tidak bersaudara dalam agama, tapi kita sesungguhnya disatukan dan kita bersaudara dalam kemanusiaan,” tuturnya.

Di akhir, ia mengajak generasi muda untuk ikut berkontribusi dalam perjuangan politik tanpa melihat latar belakang identitas.

“Bagi Partai Golkar selalu terbuka untuk siapa pun dan dari mana pun untuk kita bersama-sama,” pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemenaker Perluasan Jaminan Sosial: Harus Menjangkau Pekerja Informal
• 20 jam laludisway.id
thumb
Bareskrim Tetapkan Juri Hafiz Quran yang Lecehkan 5 Santri Sebagai Tersangka
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Kabar Rapel dan Gaji Pensiunan PNS Bakal Diputuskan Naik Akhir April, Ini Pernyataan Resmi PT Taspen
• 22 jam laluharianfajar
thumb
Presiden Prabowo Bahas Percepatan Hilirisasi dan Investasi Strategis Bersama Rosan di Hambalang
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Debu, Lift Rusak, dan Kebiasaan Warga Jadi Penyebab JPO Marunda Jakut Tak Diminati
• 23 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.