FAJAR, BANDUNG — Persaingan gelar Super League 2025/2026 kini memasuki fase paling menegangkan. Di tengah tekanan yang semakin tinggi, Borneo FC Samarinda perlahan tapi pasti mendekatkan diri pada puncak klasemen yang masih ditempati Persib Bandung. Selisih poin yang kian menipis membuat setiap pertandingan berubah menjadi penentu nasib—bukan sekadar laga biasa, melainkan “final kecil” yang menentukan arah gelar juara.
Saat ini, Borneo FC mengoleksi 63 poin dan hanya terpaut tiga angka dari Persib yang berada di puncak dengan 66 poin. Kondisi ini semakin membuka peluang bagi Pesut Etam, terutama setelah Persib kembali terpeleset usai ditahan imbang tanpa gol oleh Arema FC di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Hasil tersebut memperpanjang tren inkonsistensi Maung Bandung setelah sebelumnya juga gagal meraih kemenangan saat menghadapi Dewa United.
Di sisi lain, Borneo FC justru berada dalam momentum yang lebih stabil. Laga melawan Semen Padang FC di Stadion Segiri pada pekan ke-29 menjadi titik krusial yang bisa membawa mereka selangkah lebih dekat ke singgasana juara. Pelatih Fabio Lefundes bahkan tidak ragu menyebut bahwa seluruh sisa pertandingan musim ini harus diperlakukan seperti laga final.
“Setiap laga adalah final. Saya sudah sampaikan kepada pemain, kita harus meraih poin penuh jika ingin tetap berada di papan atas,” tegas Fabio dalam konferensi pers. Pernyataan tersebut bukan sekadar retorika, melainkan refleksi dari situasi nyata yang dihadapi timnya.
Tekanan memang besar, tetapi Borneo FC tampak siap menghadapinya. Penyerang andalan mereka, Koldo Obieta, menegaskan pentingnya dukungan suporter dalam laga kandang ini. Ia menyebut pertandingan melawan Semen Padang sebagai “final pertama dari enam laga tersisa,” sebuah penegasan bahwa setiap poin kini bernilai krusial.
“Besok adalah final pertama dari enam laga sisa. Sangat penting bagi kami untuk menang di kandang,” ujarnya.
Namun, di tengah fokus pada performa tim, Fabio Lefundes juga menyoroti aspek lain yang tak kalah penting: kepemimpinan wasit. Ia secara terbuka meminta komite wasit untuk bertindak objektif dan adil, terutama di fase akhir kompetisi yang sarat kepentingan.
“Komite wasit harus pintar memilih. Jangan sampai ada wasit yang membela satu tim, harus adil. Kami sudah bekerja keras berbulan-bulan, jangan sampai dirusak oleh hal-hal yang tidak bagus,” cetusnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran yang wajar. Dalam situasi persaingan seketat ini, satu keputusan kontroversial bisa berdampak besar terhadap perebutan gelar. Apalagi Fabio juga menyinggung adanya penunjukan wasit yang dianggap kurang tepat dalam laga-laga penting sebelumnya.
Meski demikian, pelatih asal Brasil itu tetap menekankan bahwa kunci utama ada pada timnya sendiri. Ia meminta para pemain untuk tetap menikmati permainan dan tidak terpancing emosi, meskipun tensi pertandingan dipastikan tinggi.
“Kalian harus enjoy permainan. Cara main kita berbeda, jika kita ikut bermain keras dan kasar, itu bukan karakter kita. Kita harus tetap solid dan ‘menyala’ dengan cara bermain yang bagus. Dan hasilnya kami sudah buktikan,” pungkasnya.
Di kubu Persib Bandung, situasinya justru berbanding terbalik. Meski masih memimpin klasemen, performa mereka mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan. Dalam laga melawan Arema FC, dominasi permainan tidak mampu dikonversi menjadi gol. Peluang demi peluang dari pemain seperti Uilliam Barros hingga Beckham Putra gagal menembus kokohnya pertahanan lawan yang dikawal kiper Lucas Frigeri.
Hasil imbang tersebut bukan hanya kehilangan dua poin, tetapi juga membuka celah bagi pesaing seperti Borneo FC untuk mendekat. Dalam fase akhir kompetisi, kehilangan momentum seperti ini bisa menjadi sangat fatal.
Kini, tekanan justru berada di pundak Persib. Setiap laga sisa bukan lagi sekadar upaya mempertahankan posisi, tetapi juga ujian mental untuk menjaga konsistensi di tengah kejaran rival. Sementara itu, Borneo FC datang dengan kepercayaan diri tinggi dan momentum positif—kombinasi yang sering kali menjadi faktor penentu dalam perebutan gelar.
Jika Borneo mampu mengamankan kemenangan demi kemenangan, bukan tidak mungkin mereka akan menyalip Persib di tikungan terakhir musim. Apalagi jadwal yang tersisa masih menyimpan potensi kejutan, terutama saat tim-tim papan atas saling berhadapan.
Pada akhirnya, perburuan gelar musim ini bukan hanya soal kualitas skuad, tetapi juga soal mentalitas, konsistensi, dan kemampuan memanfaatkan setiap peluang. Borneo FC kini berada di ambang sejarah, sementara Persib Bandung harus berjuang keras untuk mempertahankan mahkota mereka.
Dengan selisih poin yang begitu tipis, satu hal menjadi pasti: perburuan juara Super League 2025/2026 akan ditentukan hingga detik terakhir.





