EtIndonesia. Presiden Taiwan Lai Ching-te semula dijadwalkan berkunjung ke negara Afrika Eswatini pada 22 April. Namun sebelum keberangkatan, ia mengumumkan pembatalan perjalanan karena rute penerbangan harus melintasi tiga negara Afrika lainnya yang mana, di bawah tekanan Partai Komunis Tiongkok (PKT), mencabut izin lintas udaranya.
Para analis menyebut langkah ini belum pernah terjadi sebelumnya, dan menilai Beijing berupaya melakukan “pengepungan dari udara” untuk semakin mengisolasi Taiwan.
Pada 22 April, Kemenlu AS menyatakan keprihatinan atas insiden tersebut, mengecam tekanan yang dilakukan PKT terhadap negara-negara terkait untuk mencabut izin penerbangan. Pihak AS juga menilai tindakan ini sebagai penyalahgunaan sistem penerbangan sipil internasional yang dapat mengancam perdamaian dan kemakmuran global.
Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan kepada Voice of America bahwa wilayah informasi penerbangan (Flight Information Region/FIR) yang dikelola negara-negara tersebut seharusnya hanya digunakan untuk menjamin keselamatan penerbangan, bukan dijadikan alat politik oleh Beijing.
Juru bicara tersebut juga menambahkan bahwa kejadian ini menunjukkan Beijing terus melakukan tekanan dan intimidasi terhadap Taiwan serta para pendukungnya di seluruh dunia.
Terhambatnya kunjungan Lai Ching-te juga mendapat perhatian luas di Jepang. Sejumlah tokoh politik Jepang dalam beberapa hari terakhir menyuarakan kritik terhadap PKT yang dinilai menggunakan tekanan diplomatik untuk mempengaruhi keputusan negara ketiga, serta menyatakan dukungan terhadap Taiwan.
Juru bicara pemerintah Jepang, Minoru Kihara, dalam konferensi pers rutin pada 23 April menegaskan bahwa menjamin keselamatan dan keamanan penerbangan merupakan kepentingan bersama masyarakat internasional, dan semua negara terkait harus menjalankannya secara transparan. (Hui)
Sumber : ntdtv.com





