Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Hizbullah mencoba mensabotase upaya untuk mencapai kesepakatan perdamaian dengan Lebanon. Netanyahu menyebut proses upaya perdamaian bersejarah antara Israel dan Lebanon telah dimulai.
"Kami telah memulai proses untuk mencapai perdamaian bersejarah antara Israel dan Lebanon, dan jelas bagi kami bahwa Hizbullah mencoba untuk mensabotase ini," kata Netanyahu dalam pernyataan pertamanya setelah gencatan senjata dengan Lebanon diperpanjang, dilansir AFP, Jumat (24/4/2026).
Komentar itu muncul ketika militer Israel telah menyerang target Hizbullah di sebuah desa di Lebanon selatan sebagai tanggapan atas "pelanggaran gencatan senjata", setelah sebelumnya memperingatkan penduduk untuk mengevakuasi komunitas tersebut.
"Beberapa saat yang lalu, IDF menyerang struktur militer di daerah Deir Aames, dari mana roket diluncurkan ke arah kota Shtula di Israel kemarin," ucap Netanyahu.
"Struktur yang menjadi sasaran digunakan oleh organisasi teroris Hizbullah untuk memajukan kegiatan teroris terhadap tentara IDF dan Negara Israel," tambahnya.
Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, sebelumnya telah memperingatkan penduduk Deir Aames untuk segera mengosongkan rumah dan pindah setidaknya 1.000 meter ke luar area tersebut.
"Karena aktivitas teroris Hizbullah, IDF sedang melakukan operasi terarah di daerah tersebut," katanya di X.
Deir Aames terletak di utara "Garis Kuning" di Lebanon, di belakangnya pasukan Israel beroperasi meskipun ada gencatan senjata.
Mengenai Iran, Netanyahu mengatakan dirinya melakukan percakapan yang sangat baik dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, tanpa menyebutkan kapan keduanya berbicara.
"Dia memberikan tekanan yang sangat kuat pada Iran, baik secara ekonomi maupun militer. Kami bekerja sama sepenuhnya," imbuhnya.
(fas/jbr)





