Dedi Mulyadi Usulkan 2 Cara Ini untuk Basmi Ikan Sapu-sapu yang Membludak, Tak Cukup Ikan Ditangkap!

grid.id
6 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi usulkan cara untuk membasmi populasi ikan sapu-sapu yang membludak. Menurut Dedi, cara membasmi populasi ikan itu tak cukup hanya dengan menangkap ikan.

Seperti diketahui, baru-baru ini publik dihebohkan dengan fenomena membludaknya populasi ikan sapu-sapu. Bahkan, hampir tujuh ton ikan sapu-sapu berhasil diangkat dari perairan Jakarta dalam operasi penertiban yang digelar serentak pada Jumat (17/4/2026).

Langkah ini dilakukan untuk menekan populasi ikan yang invasif dan dinilai bisa merusak keseimbangan ekosistem. Hal itu dibenarkan oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A Sidabalok.

“Hasil tangkapan ikan yang diperoleh mencapai 6,98 ton," kata Hasudungan A Sidabalok saat dikonfirmasi, Jumat (17/4/2026) dilansir dari Wartakotalive.com.

Terkait hebohnya fenomena ikan sapu-sapu, baru-baru ini Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi ikut buka suara. Melalui wawancaranya, Dedi Mulyadi usulkan dua cara untuk basmi populasi ikan sapu-sapu.

Menurut Dedi, kemunculan ikan sapu-sapu dalam jumlah besar menjadi indikator menurunnya kualitas air sungai. Hal itu karena ikan endemik tidak lagi mampu bertahan hidup, oleh karena itu yang hidup adalah ikan sapu-sapu.

"Sapu-sapu untuk seluruh daerah ya ambil saja, tangkap saja. Sapu-sapu itu tumbuh manakala sungainya sudah mengalami penurunan kualitas."

"Jadi kalau sungainya mengalami penurunan kualitas, maka ikan yang hidup itu hanya sapu-sapu," kata Dedi saat ditemui di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Rabu (22/4/2026) dilansir Kompas.com.

Dedi menyebut ikan sapu-sapu memang cenderung berkembang di perairan yang sudak tercemar. Kondisi ini tentu menjadi tanda bahwa kualitas air di sungai mengalami penurunan.

Terkait hal itu, pria yang akrab disapa KDM itu mengusulkan dua cara untuk membasmi ikan sapu-sapu. Selain ikan sapu-sapu ditangkap, kualitas air sungai juga perlu diperbaiki.

 Jika kualitas air diperbaiki maka ikan endemik akan hidup lagi. Oleh karena itu, mereka mampu menyaingi dominasi ikan sapu-sapu.

"Jadi kalau ingin menghilangkan sapu-sapu ada dua hal: pertama sapu-sapunya harus diangkat, kedua kualitas airnya harus diperbaiki agar ikan-ikan endemiknya hidup lagi," ucapnya.

Dedi menambahkan bahwa sejumlah warga di Jawa Barat telah mulai menangkap ikan sapu-sapu dari sungai. Ia menyebut hal itu membantu mengurangi populasi ikan tersebut.

Namun, Dedi Mulyadi menegaskan jika solusi utama dari masalah tersebut adalah kualitas air sungai yang harus diperbaiki.

"Kalau selama ini juga sapu-sapu sudah diambilin oleh warga Jabar," pungkasnya.

Fakta Ikan Sapu-sapu

Melansir Kompas.com, Ikan sapu-sapu merupakan sebutan umum untuk spesies dalam genus Pterygoplichthys, terutama Pterygoplichthys pardalis dan Pterygoplichthys disjunctivus. Ikan ini berasal dari Amerika Selatan, khususnya wilayah Sungai Amazon serta cekungan sungai di Brasil dan Peru.

Di habitat aslinya, populasi ikan ini relatif stabil karena adanya predator alami dan keseimbangan ekosistem. Namun, sejak akhir abad ke-20, ikan sapu-sapu mulai menyebar ke berbagai negara tropis dan subtropis. Penyebaran ini terjadi akibat aktivitas manusia, terutama pelepasan ikan dari akuarium atau kebocoran dari budidaya ikan hias.

Ikan sapu-sapu memiliki beberapa karakteristik yang membuatnya berbahaya bagi lingkungan. Pertama, ikan ini bersifat detritivor dan algivor, sehingga mengonsumsi alga dan bahan organik dalam jumlah besar. Hal ini menyebabkan berkurangnya sumber makanan bagi ikan lokal seperti nilem dan tawes.

Kedua, ikan sapu-sapu memiliki kebiasaan menggali lubang untuk bersarang di dasar atau tepi sungai. Lubang ini dapat mencapai kedalaman 120 hingga 150 sentimeter. Aktivitas tersebut memicu erosi tebing sungai, meningkatkan kekeruhan air, serta mempercepat pendangkalan.

Ketiga, tubuh ikan sapu-sapu yang keras dan siripnya yang tajam sering merusak jaring nelayan. Hal ini menyebabkan penurunan hasil tangkapan dan berdampak pada kerugian ekonomi masyarakat. (*)

 

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Simak Rincian Harga Terbaru Emas UBS dan Galeri 24 di Pegadaian Hari Ini
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kasus Korupsi Bea Cukai Bergulir ke Meja Hijau, Sidang Perdana Digelar 6 Mei di PN Jakpus
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Sekolah di Manggala Gelar Aksi Berjenjang Peringati Hari Bumi, Siswa Didorong Peduli Lingkungan Sejak Dini
• 21 jam laluharianfajar
thumb
Kisah Karyawan Difabel Rokok HS, Dulu Sering Ditolak Kerja, Kini Bisa Lunasi Utang & Menabung
• 17 jam lalujpnn.com
thumb
Iran Diusulkan Diganti Italia di Piala Dunia 2026, Tim Melli Malah Siap Terbang ke AS untuk Bermain
• 21 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.