REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG-- Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkapkan sejumlah penyebab sampah masih menumpuk di sejumlah tempat pembuangan sampah sementara (TPS) di Kota Bandung. Ia menyebut kebijakan pengurangan kuota pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) dan antrean kendaraan membuat dampak.
"Kita mesti tahu dulu kenapa penumpukan sampah terjadi lagi karena satu, memang ada pengurangan kuota. Kedua, antrean yang makin panjang karena yang membuang ke Sarimukti tidak hanya Kota Bandung," ucap dia belum lama ini.
Baca Juga
Mobilitas Yogya–Solo Melesat, Penumpang KRL Tembus 2,2 Juta
Stok Pupuk Subsidi Dipastikan Aman, Petani Majalengka Diminta Percepat Musim Tanam II
bank bjb Hadirkan Promo Eksklusif, Tiket BOGORUN 2026 Bisa Didapat dari Menabung
Ia menyebut timbulan sampah saat ini pun tergolong meningkat mencapai 20 persen. Farhan mengatakan timbulan sampah per hari di Kota Bandung dari 1.500 ton naik menjadi 1.800 ton.
Pihaknya pun saat ini tengah membahas terkait kebijakan pemerintah pusat yang akan menutup semua TPA open Dumping pada Desember tahun 2026.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Sebelumnya, tumpukan sampah menggunung di tempat pembuangan sampah sementara (TPS) di Jalan Makam Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, Sabtu (18/4/2026). Akibatnya, warga sekitar dan pengendara motor yang melintas mengeluhkan bau menyengat, air lindi hingga kemacetan.
Pantauan Republika, bau menyengat mulai tercium dari kejauhan di Jalan Makam Caringin, saat mendekati TPS sementara bau tidak sedap semakin kuat. Beberapa pengendara motor harus menutup hidung saking bau sampah yang menyengat.
Beberapa warga sekitar yang bersebelahan dengan TPS masih beraktivitas meski merasa terganggu. Tumpukan sampah menggunung hingga mengambil sebagian bahu jalan. Air Lindi mengalir di area jalan.
Kendaraan yang melintas pasti melewati air Lindi tersebut. Beberapa orang warga berinisiatif mengatur arus lalu lintas jika terdapat kendaraan yang berpapasan dari kedua arah. Salah satunya harus mengalah mundur agar kendaraan lainnya bisa melintas terlebih dahulu.
Salah seorang warga Ade (50 tahun) menjelaskan sampah yang dibuang ke TPS di Jalan Makam Caringin berasal dari berbagai wilayah di Kecamatan Babakan Ciparay. Ia mengaku sudah hampir empat bulan sampah menumpuk dan bisa dihitung jari proses pengangkutannya.
"Ini kan sampahnya ini dari mana-mana, ini udah hampir 4 bulan nggak diangkut-angkut, dikarenakan sering habis kuota (rit ke Sarimukti)," kata dia ditemui, Sabtu (18/4/2026).