Pantau - Ekonomi kerajinan tangan di China berkembang pesat seiring perubahan tren wisata yang kini lebih menekankan pengalaman budaya dan nilai emosional dibanding sekadar konsumsi material.
Fenomena ini terlihat di Kota Xinzhou, Provinsi Shanxi, di mana wisatawan terlibat langsung dalam berbagai aktivitas kerajinan tradisional.
Seorang wisatawan muda, Cui Yafei, menyaksikan proses perubahan warna kain melalui teknik pencelupan alami tradisional yang menjadi daya tarik utama.
"Di sini, semua orang adalah perancang. Setiap karya adalah kenangan unik yang terjalin antara kami dan teknik pencelupan alami tradisional," ungkap Cui.
Pengalaman Budaya Jadi Daya Tarik UtamaTeknik pencelupan alami menggunakan bahan herbal seperti akar Isatis menjadi bagian dari warisan budaya takbenda yang kini diminati generasi muda.
Pewaris teknik tersebut, Zhao Hui, menyebut bengkel kerjanya menawarkan lebih dari 100 variasi warna untuk menarik pengunjung.
"Jika dirawat dengan baik, bahan pewarna ini bisa bertahan lebih lama dari saya," ujarnya.
Selain itu, wisatawan juga dapat mencoba membuat huamo, roti kukus dengan hiasan artistik, yang kini dikembangkan dalam bentuk kartun untuk menambah daya tarik.
Dukungan Pemerintah dan Perubahan KonsumenPemerintah daerah turut mendorong perkembangan ini dengan membuka 30 toko budaya kreatif di kawasan kota tua Xinzhou.
Tren serupa juga terjadi di berbagai daerah lain di China, seperti Jingdezhen dengan kerajinan tembikar, Suzhou dengan kipas lak, dan Fujian dengan seni pembuatan teh.
Akademisi folklor Yan Chun menilai perubahan ini menunjukkan pergeseran perilaku konsumen.
"Konsumen tidak lagi puas dengan penerimaan pasif; mereka kini lebih bersedia membayar untuk nilai emosional yang unik, pengalaman sosial, dan kenangan dari proses," ujarnya.
Perkembangan ini dinilai mampu menghidupkan kembali warisan budaya sekaligus menciptakan momentum baru dalam pertumbuhan ekonomi kreatif.




