Lonjakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak signifikan terhadap ekonomi global, termasuk Uni Eropa.
Ursula von der Leyen Presiden Komisi Eropa mengungkapkan bahwa konflik di kawasan tersebut telah memicu kenaikan biaya impor bahan bakar fosil hingga 25 miliar euro atau setara sekitar Rp505 triliun.
Pernyataan itu disampaikan von der Leyen usai pertemuan informal para pemimpin Uni Eropa yang digelar di Siprus pada Kamis dan Jumat.
Pertemuan tersebut membahas berbagai isu strategis, mulai dari dinamika geopolitik di Timur Tengah dan Ukraina hingga perencanaan Kerangka Keuangan Multitahunan (MFF) periode 2028–2034.
“Setelah 55 hari konflik di Timur Tengah, dampaknya terasa nyata. Sejak awal konflik ini, tagihan kita untuk impor bahan bakar fosil telah melonjak lebih dari 25 miliar euro tanpa adanya tambahan energi sedikit pun,” ujar von der Leyen dilansir dari Antara pada Sabtu (25/4/2026).
Dia menegaskan, kenaikan biaya tersebut menjadi beban tambahan bagi Uni Eropa yang tengah berupaya menjaga stabilitas energi di tengah ketidakpastian global.
Meski demikian, situasi saat ini dinilai masih dapat dikendalikan dan belum masuk kategori krisis yang mengkhawatirkan.
Sebagai langkah antisipasi, Uni Eropa kini tengah menyiapkan berbagai skenario untuk menghadapi kemungkinan terburuk, termasuk risiko perlambatan ekonomi dan potensi kekurangan pasokan listrik.
Eskalasi konflik dipicu oleh serangan gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan merusak infrastruktur dan menimbulkan korban sipil.
Sebagai respons, Iran melakukan serangan balasan ke wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Ketegangan sempat mereda setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada 7 April.
Namun, dampak konflik tetap terasa pada sektor energi global. Gangguan keamanan di jalur strategis Selat Hormuz—yang menjadi jalur utama distribusi minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia—sempat menghambat lalu lintas pelayaran internasional. (ant/saf/iss)




