SERPONG, DISWAY.ID -- Kemendikdasmen melalui Direktorat PKPLK mengusung skema sekolah induk dan sekolah mitra dalam implementasi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) 2026 untuk menjangkau anak tidak sekolah (ATS).
Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Saryadi, mengatakan bahwa sekolah induk merupakan SMA formal yang menjadi pusat pengelolaan PJJ di tingkat provinsi.
Sementara sekolah mitra ditempatkan di wilayah dengan angka ATS tinggi.
BACA JUGA:Bupati Majalengka Apresiasi Program Sekolah Rakyat dari Gus Ipul, Buka Akses Pendidikan untuk Warga Miskin
“Status siswa tetap sebagai siswa SMA formal, bukan homeschooling atau paket C.
Mereka tetap mendapatkan ijazah dan rapor,” ujar Saryadi, di Serpong, kamis, 23 April 2026.
Sekolah mitra berperan sebagai titik layanan terdekat bagi siswa, terutama yang memiliki keterbatasan akses internet.
Di lokasi ini, siswa dapat memanfaatkan fasilitas seperti komputer, jaringan internet, hingga pendampingan tutor.
Untuk mendukung pembelajaran, Kemendikdasmen menyiapkan sistem berbasis teknologi melalui Learning Management System (LMS), serta modul cetak terstandarisasi untuk pembelajaran mandiri.
BACA JUGA:Polri Kejar TPPU Narkoba, Kasus Ko Erwin Jadi Sorotan: Aset Disita dan Pelaku Siap Dimiskinkan
“Konsepnya sekolah yang mendatangi siswa, bukan menunggu siswa datang. Ini penting untuk menjangkau mereka yang tidak terakses,” kata Saryadi.
Selain itu, berbagai skema alternatif juga disiapkan, termasuk pembelajaran berbasis offline hingga pemanfaatan media sederhana seperti radio di wilayah dengan keterbatasan jaringan.
Berdasarkan data menunjukkan, angka ATS tertinggi berada di Jawa Barat, diikuti Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Secara nasional, program ini menargetkan sedikitnya 3.500 siswa dapat terlayani pada tahap awal.
Dengan pendekatan fleksibel dan kolaboratif, PJJ 2026 diharapkan menjadi solusi nyata dalam memastikan hak pendidikan tetap terpenuhi bagi seluruh anak Indonesia, tanpa terkecuali,"pungkasnya.
- 1
- 2
- »





