Menakar Dampak Belum Pastinya Penyesuaian RKAB pada Pembiayaan Alat Berat Multifinance

bisnis.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Belum adanya kepastian penyesuaian rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) batu bara membuat industri pembiayaan lebih hati-hati dalam menyalurkan pembiayaan, khususnya alat-alat berat.

Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) berpendapat saat ini semua pihak seperti pengusaha tambang hingga perusahaan pembiayaan dalam posisi menunggu kepastian kebijakan.

Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno mengatakan kondisi itu membuat pengusaha tambang berhati-hati, baik untuk menambah armadanya atau alat-alat berat lainnya. Pasalnya, dengan alat yang ada saja belum tentu akan digunakan semuanya.

“Kalau misalnya, izinnya sendiri belum diberikan penambahan, bahkan dikurangi. Ya, kalau saya kembali sebab akibat kan, ada permohonan, ya kita proses,” katanya kepada Bisnis, Jumat (24/4/2026).

Suwandi meneruskan, jika tidak ada permintaan baru pembiayaan alat berat, maka industri pembiayaan berharap pada debitur yang sudah ada agar tetap mampu memenuhi kewajiban pembayaran kreditnya.

Selain itu, lanjutnya, supaya industri pembiayaan bisa tumbuh, maka perusahaan akan berharap pada pertumbuhan pembiayaan modal usaha atau modal kerja.

Baca Juga

  • Menelisik Penyebab Lesunya Pembiayaan Investasi Multifinance saat Industri Tumbuh
  • Bayang-Bayang Risiko di Balik Pertumbuhan Pesat Paylater Multifinance
  • NPF Multifinance 2026 Naik, Industri Perketat Mitigasi Risiko

“Kalau pun turun berarti apakah berhenti menambangnya? Kan enggak. Tetap menambang, paling kalau enggak menambah alat, perlu beri sparepart, perlu beri solar. Nah di situ kami ada kesempatan untuk membiayai,” tutur Suwandi.

Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Chandra Sakti Utama Leasing (CSUL) ini membeberkan pembiayaan alat berat dari perusahaannya pun pada kuartal I/2026 sudah terlihat ada penurunan.

“Misalnya tahun lalu kami bisa membiayai alat berat sebanyak 227 unit, tahun ini cuma baru 145 unit ya. Unit alat berat termasuk truk dan lain-lainnya yang untuk alat berat, penambangan dan segalanya,” bebernya.

Senada, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) atau Adira Finance menyampaikan belum adanya kepastian penyesuaian RKAB batu bara memang memberikan dampak terhadap kehati-hatian penyaluran pembiayaan multifinance, khususnya pada segmen alat berat yang sebagian masih terkait dengan aktivitas pertambangan

Chief Financial Officer (CFO) Adira Finance Sylvanus Gani menuturkan kondisi tersebut cenderung membuat proses ekspansi berjalan lebih selektif. Akan tetapi, eksposur pembiayaan alat berat perusahaan tidak sepenuhnya terfokus pada sektor batubara.

“Karena portofolio juga mencakup sektor lain seperti konstruksi, pertanian, infrastruktur, dan lainnya sehingga risiko dapat lebih terdiversifikasi,” katanya kepada Bisnis, Kamis (23/4/2026).

Strategi Jaga Pertumbuhan Pembiayaan

Gani meneruskan, strategi Adira Finance dalam menghadapi ketidakpastian di sektor pertambangan adalah tetap menjaga pertumbuhan secara sehat dan selektif. 

“Fokus kami bukan hanya pada sektor pertambangan, tetapi juga memperluas peluang pembiayaan ke sektor lain yang masih membutuhkan alat berat,” tegasnya.

Selain itu, imbuhnya, perseroan juga memperkuat prinsip prudent underwriting dan menjaga kualitas portofolio melalui monitoring serta collection yang disiplin. Dengan cara tersebut, total pembiayaan alat berat Adira Finance tumbuh positif.

Pada Maret 2026, total pembiayaan alat berat Adira Finance tercatat sebesar Rp136 miliar. Gani menyebut pembiayaan ini tumbuh positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan kontribusi yang masih relatif kecil terhadap total pembiayaan. 

“Sementara itu, kontribusi terbesar portofolio Perusahaan masih berasal dari segmen otomotif yang menjadi fokus utama bisnis,” tuturnya.

Kendati demikian, katanya, untuk ke depan pembiayaan alat berat akan tetap dikembangkan secara selektif dan terukur, dengan mempertimbangkan peluang di berbagai sektor produktif serta kondisi pasar.

Sementara itu, PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) berujar untuk mengantisipasi potensi perlambatan, pihaknya menerapkan strategi yang adaptif dan prudent dengan memperkuat manajemen risiko serta selektivitas dalam penyaluran pembiayaan.

“Khususnya pada sektor yang lebih sensitif terhadap fluktuasi harga komoditas. Kami juga terus melakukan monitoring portofolio secara intensif untuk menjaga kualitas aset tetap terjaga,” kata Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani kepada Bisnis, Selasa (21/4/2026).

Di sisi lain, imbuhnya, perusahaan mendorong diversifikasi pembiayaan ke sektor produktif lainnya yang memiliki prospek pertumbuhan stabil. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan portofolio dan mengurangi konsentrasi risiko, sehingga kinerja pembiayaan tetap tumbuh sehat dan berkelanjutan.

Aditia melanjutkan, pada kuartal I/2026 pembiayaan alat berat berkontribusi sebesar 17,80% terhadap total portofolio pembiayaan. Sementara itu, penyaluran pembiayaannya bertumbuh sebesar 33,26% (year on year/YoY).

Lebih jauh, Aditia menyampaikan hingga saat ini belum terdapat arahan dari regulator terkait penyesuaian RKAB yang berdampak langsung pada penyaluran pembiayaan alat berat

“Oleh karena itu, aktivitas pembiayaan masih berjalan normal, didukung oleh kebutuhan operasional dan kontrak yang sudah berjalan,” katanya.

Namun demikian, dia menegaskan bahwa perusahaan tetap memonitor perkembangan kebijakan secara berkala serta mengedepankan prinsip kehati hatian dalam menjaga kualitas portofolio pembiayaan.

Sependapat, PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN) atau Clipan Finance menekankan Perseroan senantiasa mencermati perkembangan regulasi, termasuk proses penyesuaian RKAB, sebagai bagian dari manajemen risiko dalam penyaluran pembiayaan alat berat.

Direktur Utama Clipan Finance Indonesia Harjanto Tjitohardjojo menuturkan dalam kondisi kebijakan yang masih dalam proses penyesuaian, Perseroan menerapkan prinsip kehati-hatian.

“Dengan melakukan evaluasi kredit yang lebih ketat tanpa menghentikan penyaluran pembiayaan secara keseluruhan,” ucapnya kepada Bisnis, Rabu (22/4/2026).

Sejauh ini, katanya, porsi pembiayaan kepada sektor pertambangan batu bara masih berada pada level yang terukur dan terkendali. Ini dilakukan sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio.

Selain itu, Clipan Finance aktif memperluas penyaluran pembiayaan alat berat ke sektor-sektor lain yang memiliki prospek pertumbuhan tinggi, seperti perkebunan, konstruksi, dan infrastruktur, guna mengurangi konsentrasi risiko pada satu sektor tertentu.

“Dari sisi kinerja portofolio, pembiayaan alat berat tetap mencatat pertumbuhan yang positif dengan penyebaran yang semakin merata di berbagai wilayah potensial di Indonesia, dan berkontribusi secara signifikan terhadap total portofolio Perseroan,” jelasnya.

Adapun, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), Bisman Bakhtiar berpendapat  belum adanya kepastian penyesuaian RKAB batu bara berdampak cukup besar terhadap penyaluran pembiayaan multifinance.

Pasalnya, ketidakpastian RKAB ini membuat para pelaku tambang menunda ekspansi dan pembelian alat berat. Mereka tidak berani berspekulasi karena akan berisiko pada keuangan.

“Jadi permintaan pembiayaan ya ikut melemah karena ketiadaan kepastian produksi membuat proyek-proyek tertunda,” katanya kepada Bisnis, Jumat (24/4/2026).

Oleh karena itu, dia menyarankan agar industri pembiayaan memperluas portofolio ke sektor lain seperti konstruksi, logistik, dan energi terbarukan

“Bisa juga mengembangkan skema pembiayaan yang lebih fleksibel, khususnya untuk mengakomodasi risiko sektor tambang yang besar unsur ketidakpastiannya,” pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prajurit TNI Gugur di Lebanon Bertambah, Kemlu RI Kutuk Serangan Israel
• 18 jam laludetik.com
thumb
Masuk Majalah TIME, Petinggi ParagonCorp Bawa Kisah Perempuan RI Mendunia
• 37 menit laludetik.com
thumb
Tinggalkan Manchester United Demi Al-Qur’an? Niat Mengejutkan Noussair Mazraoui Bikin Haru Dunia Sepak Bola
• 23 jam laluviva.co.id
thumb
Pondok Pesantren di Palas Lampung Selatan Terbakar, Diduga Korsleting Listrik
• 15 jam lalutvrinews.com
thumb
KPU Siapkan Dapil Khusus IKN untuk Pemilu 2029
• 21 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.