Pantau - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memperluas implementasi pembelajaran jarak jauh (PJJ) jenjang pendidikan menengah di 34 provinsi dengan target menjangkau 3.500 anak tidak sekolah agar kembali memperoleh pendidikan bermutu dan inklusif.
Perluasan Akses dan Pemanfaatan TeknologiMenteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menyatakan program ini bertujuan memastikan akses pendidikan tidak terhambat faktor geografis, ekonomi, maupun sosial.
“Kita harus menekankan bahwa pendidikan tidak lagi dipandang hanya sebatas kegiatan formal di ruang kelas, melainkan sebagai proses pembelajaran yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Dengan paradigma tersebut kami ingin menjangkau yang mereka yang tidak terjangkau sehingga PJJ ini menjadi solusi nyata untuk menjawab tantangan pemerataan akses pendidikan,” katanya.
Ia menambahkan pemanfaatan teknologi digital terus didorong, termasuk melalui pengembangan super aplikasi Rumah Pendidikan serta rencana pembangunan studio pembelajaran untuk menghubungkan guru dan siswa di berbagai daerah.
Sasaran ATS dan Daerah PrioritasDirektur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin menjelaskan program ini menyasar anak tidak sekolah (ATS) usia 16–18 tahun yang membutuhkan layanan pendidikan khusus.
“Prioritas pelaksanaan PJJ ini untuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), daerah dengan ATS tinggi, daerah rawan bencana, serta Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) dengan anak pekerja migran Indonesia yang tinggi,” ujarnya.
Berdasarkan data Kemendikdasmen, jumlah ATS jenjang menengah mencapai sekitar 1,13 juta, sehingga PJJ menjadi solusi untuk memperluas akses pendidikan secara merata.
Sebagai tahap awal, sebanyak 20 sekolah ditunjuk sebagai pionir pelaksanaan program yang diharapkan menjadi model praktik baik pendidikan jarak jauh di Indonesia.




