PT Phapros Tbk (PEHA) mengawali tahun ini dengan kinerja keuangan yang mengesankan. Sebelumnya, emiten farmasi itu juga sukses mencetak pertumbuhan laba bersih untuk Tahun Buku 2025 sebesar 109% secara tahunan atau year on year (YoY).
Sebagai anggota Grup Biofarma, perusahaan mampu menjaga profitabilitas berkelanjutan dengan membukukan pertumbuhan laba bersih signifikan mencapai 112,86% pada tiga bulan pertama 2026. Performa tersebut menjadi kelanjutan dari momentum kesuksesan yang telah diraih pada tahun sebelumnya.
“Setelah berhasil membalikkan kondisi dari rugi pada 2024 menjadi profit pada 2025, kami terus berupaya untuk menjaga profitabilitas perusahaan," kata Plt Direktur Utama PEHA, Ida Rahmi Kurniasih, dalam keterangannya yang dikutip di Jakarta, Sabtu (25/4).
Lonjakan profitabilitas pada kuartal pertama itu ditopang oleh kenaikan penjualan sebesar 10,17 persen menjadi Rp 221,09 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 200,67 miliar.
Keberhasilan tersebut membuktikan efektivitas strategi perusahaan dalam mengoptimalkan seluruh saluran penjualan serta menjaga stabilitas ketersediaan produk di pasar. Manajemen PEHA menekankan, pertumbuhan itu tetap mengedepankan standar mutu tinggi dan kepatuhan terhadap regulasi.
Faktor kunci lain di balik melesatnya laba adalah kemampuan perusahaan dalam mengendalikan beban pokok penjualan atau cost of goods sold (COGS) yang hanya naik 5,04%. Pertumbuhan biaya produksi itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan persentase pertumbuhan penjualan. Alhasil, laba kotor perusahaan meningkat 16,59% menjadi Rp 103,96 miliar dibandingkan kuartal I 2025 yang tercatat sebesar Rp 89,17 miliar.
Efisiensi tidak hanya terjadi pada lini produksi, tetapi juga pada beban usaha yang relatif stabil dengan kenaikan hanya 7,35% YoY. Melalui kombinasi pertumbuhan penjualan yang signifikan serta stabilitas biaya, Phapros sukses mencetak laba bersih sebesar Rp 761,49 juta pada kuartal I 2026. Angka itu berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun sebelumnya di mana perseroan masih mengalami kerugian sebesar Rp 5,92 miliar.
Kesehatan keuangan perusahaan juga tercermin dari pengelolaan arus kas (cashflow) yang sangat baik per 31 Maret 2026. Arus kas operasional tercatat positif sebesar Rp 37,2 miliar atau melonjak 289% dibandingkan posisi Maret 2025 yang minus Rp 19,6 miliar. Kondisi ini turut meningkatkan saldo kas di akhir periode sebesar 165% dibandingkan dengan akhir Maret tahun lalu.
Ida menjelaskan, kinerja positif ini dicapai di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian. Menurutnya, perseroran secara konsisten menjalankan strategi efisiensi biaya di semua lini operasional untuk menjaga kinerja keuangan.
Menghadapi dampak geopolitik yang menyebabkan kenaikan harga bahan baku, Phapros telah melakukan mitigasi risiko melalui kontrak pembelian sejak awal tahun. Perusahaan terus memantau perkembangan situasi agar tetap adaptif dalam menghadapi fluktuasi biaya. Tujuannya adalah untuk mengamankan target penjualan dan laba bersih hingga akhir tahun sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).
“Berbagai langkah strategis tersebut berhasil menjaga profitabilitas berkelanjutan," ujar Ida.
Dari sisi segmen produk, obat generik bermerek (OGB) menjadi penopang utama dengan lonjakan penjualan sebesar 59% menjadi Rp 128,70 miliar. Kontribusi signifikan datang dari produk obat antituberkulosis serta tablet tambah darah. Menurut Ida, hal tersebut menjadi bentuk komitmen PEHA dalam mendukung program pemerintah terkait penanganan TBC, anemia, dan stunting di masyarakat.
Dia menuturkan, sebagai perusahaan farmasi yang berdiri sejak 1954, Phapros terus menjaga standar kualitas melalui berbagai sertifikasi seperti CPOB, ISO, dan jaminan halal. Saat ini, perusahaan memproduksi lebih dari 200 item obat, termasuk produk unggulan Antimo yang menjadi pemimpin pasar di kategorinya.
Kepemilikan saham perusahaan terdiri dari PT Kimia Farma Tbk sebesar 56,77% dan sisanya dimiliki oleh publik. Keberhasilan di kuartal pertama 2026 diharapkan menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan perusahaan di sisa tahun berjalan. Manajemen tetap optimistis dapat menjaga performa positif ini dengan terus mengedepankan inovasi dan efisiensi operasional.
"Phapros berkomitmen untuk terus memberikan kontribusi terbaik bagi kesehatan masyarakat Indonesia," kata Ida.




