REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyampaikan pemerintah menyiapkan sejumlah strategi untuk mengamankan pasokan energi nasional di tengah gejolak geopolitik global. Langkah ini diarahkan menjaga ketahanan energi agar tetap stabil.
Ia menjelaskan tekanan di kawasan Timur Tengah, termasuk gangguan di jalur Selat Hormuz, memberi risiko terhadap rantai pasok energi dunia. Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak mentah terdampak sehingga pemerintah mempercepat langkah mitigasi.
Baca Juga
Kemasan Plastik Picu Naiknya Harga Minyak Goreng
PTPP Rampungkan Pembangunan 69 SPPG di 15 Provinsi
Ribuan Pelari Ramaikan Adhyaksa International Run 2026, BNI Dukung Sport Tourism di Bali
“Saat ini langkah-langkah mitigasi yang telah dilakukan pemerintah antara lain diversifikasi impor energi, optimalisasi pasokan domestik dan biofuel, peningkatan kinerja kilang, penguatan kerja sama bilateral, serta kebijakan konsumsi bahan bakar dan LPG yang efisien,” tutur Laode di Jakarta, dikutip Sabtu (25/4/2026).
Ia menerangkan, diversifikasi impor dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada kawasan rawan konflik. Pemerintah juga menggenjot pemanfaatan energi domestik, termasuk biofuel, guna menjaga kesinambungan pasokan di dalam negeri.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Di sisi hulu, pemerintah mencatat temuan besar di Sumur Geliga, Blok Ganal. Cadangan tersebut diperkirakan mencapai 5 TCF gas dan 300 MMbbl kondensat, menjadi penopang tambahan pasokan energi dalam jangka panjang.
“Temuan ini menjadi pilar penting untuk mengejar target produksi minyak yang diproyeksikan mencapai 610 MBOPD pada 2026,” ujar Laode.
Pemerintah juga membuka peluang investasi lebih luas dengan menawarkan 116 blok migas baru kepada investor global. Skema kolaborasi teknologi dan operasi di wilayah kerja eksisting diperluas melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025.