Situasi keamanan di Lebanon kian mencekam menyusul peningkatan serangan militer zionis Israel di wilayah selatan. Meskipun kesepakatan penghentian serangan sempat dibahas, Israel melanggar gencatan senjata yang mengakibatkan lonjakan jumlah korban sipil.
Berdasarkan data terbaru hingga April 2026, jumlah warga yang gugur akibat agresi Israel di Lebanon kini mencapai 2.483 jiwa, sementara 7.707 orang lainnya mengalami luka-luka sejak 2 Maret 2026. Serangan terbesar dilaporkan terjadi di kota Kamaa dan sejumlah wilayah strategis di Lebanon Selatan.
Kekejaman serangan udara Israel juga menyasar Distrik Nabatieh, yang mengakibatkan tiga warga Lebanon tewas, di mana dua di antaranya adalah anak-anak. Selain itu, serangan artileri di kota Yater, distrik Bint Jbeil, telah menyebabkan puluhan warga sipil menderita luka-luka.
Baca juga: Trump Tak Akan Buru-Buru Akhiri Perang dengan Iran, 78% Target Militer Diklaim Lumpuh
Menanggapi pelanggaran gencatan senjata tersebut, kelompok perlawanan Hizbullah menyatakan telah melakukan tindakan balasan pada Kamis, 23 April 2026. Mereka menargetkan posisi pasukan Zionis di Desa Taybeh dengan menggunakan drone dan berbagai senjata tambahan. Pihak Hizbullah menegaskan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk pembalasan atas pelanggaran kesepakatan yang dilakukan oleh pihak Israel.
Di tengah eskalasi yang terus meningkat, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa masa gencatan senjata sepuluh hari yang saat ini berlaku antara Israel dan Lebanon akan diperpanjang selama tiga pekan.




