Serangan bom mengguncang wilayah rawan konflik di barat daya Kolombia. Peristiwa tersebut menewaskan tujuh orang dan melukai lebih dari 20 lainnya.
Dilansir AFP, serangan ini dilakukan pada Sabtu (25/4). Serangan ini menjadi bagian dari rangkaian kekerasan terbaru menjelang pemilihan presiden bulan depan.
"Sebuah perangkat peledak diledakkan" di sebuah jalan, yang menyebabkan "tujuh warga sipil tewas dan lebih dari 20 orang mengalami luka serius," ujar Gubernur Cauca, Octavio Guzman, melalui akun X. Ia juga membagikan video yang memperlihatkan korban tergeletak di lokasi serta kendaraan yang hancur akibat ledakan.
Unggahan lain di media sosial menunjukkan kerusakan parah dan kawah di badan jalan. Sejumlah saksi menyebut ledakan tersebut sangat kuat hingga membuat mereka terpental beberapa meter.
Sejak Jumat, beberapa serangan dilaporkan terjadi di Kolombia. Otoritas setempat menuding kelompok pembangkang dari gerilyawan FARC, yang telah dibubarkan, sebagai pelaku.
Sisa-sisa kelompok FARC yang menolak perjanjian damai dengan pemerintah pada 2016 masih aktif dan berupaya mengganggu proses perundingan damai yang terhenti dengan Presiden saat ini, Gustavo Petro, yang berhaluan kiri.
Sebelumnya, serangan bom di sebuah pangkalan militer di Cali pada Jumat (24/4) menyebabkan dua orang terluka.
Gelombang kekerasan ini meningkatkan ketegangan menjelang pemilihan presiden pada 31 Mei, di mana isu keamanan menjadi salah satu fokus utama.
Senator sayap kiri Ivan Cepeda, yang dikenal sebagai arsitek kebijakan kontroversial Presiden Petro dalam bernegosiasi dengan kelompok bersenjata, saat ini unggul dalam jajak pendapat. Ia diikuti oleh kandidat sayap kanan Abelardo de la Espriella dan Paloma Valencia.
(aik/aik)





