AI Mengubah Segalanya! Menaker Sebut Setengah Pekerjaan Bisa Hilang 10 Tahun Lagi

wartaekonomi.co.id
7 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menyoroti urgensi penguasaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bagi lulusan perguruan tinggi di Indonesia. Berdasarkan hasil survei, hampir 70% pemimpin bisnis di Indonesia menyatakan tidak akan merekrut kandidat yang tidak memiliki kemampuan dasar terkait AI.

Yassierli menyebut permintaan tenaga kerja dengan kemampuan AI di Asia Tenggara meningkat hingga 2,4 kali lipat dalam lima tahun terakhir.

“Saat ini yang dicari industri adalah skills, not school. Kami melihat peningkatan empat kali lipat jumlah lowongan kerja yang lebih mementingkan kompetensi nyata dibanding sekadar gelar administratif dalam satu dekade terakhir,” tegasnya dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (26/4/2026).

Menurut dia, ijazah akademik bukan lagi menjadi jaminan utama untuk memenangkan persaingan di pasar kerja global yang semakin dinamis.

Karena itu, Yassierli mengimbau lulusan perguruan tinggi membekali diri dengan strategi Triple Readiness atau tiga kesiapan guna menghadapi disrupsi teknologi, khususnya AI.

Ia memaparkan, pergeseran lanskap dunia kerja kini terjadi secara masif. Mengutip data LinkedIn, Yassierli menyebut 80% jenis pekerjaan saat ini belum ada 20 tahun lalu. Bahkan, sekitar 50% pekerjaan yang ada saat ini diprediksi tidak lagi relevan dalam 10 tahun mendatang.

“Dunia kerja terus berubah seiring perkembangan teknologi. Tantangan terbesar kita saat ini adalah digital skill gap. Saat ini, pekerja kita yang memiliki keterampilan digital baru mencapai 27%, jauh di bawah standar global yang berada di kisaran 60% hingga 70%,” ujarnya.

Meski demikian, Yassierli menilai perubahan tersebut juga membuka peluang ekonomi baru yang perlu dimanfaatkan generasi muda, seperti green economydigital platform, dan care economy.

Lebih lanjut, ia menjelaskan lulusan perguruan tinggi perlu menguasai keterampilan teknis yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan, seperti keterampilan digital tingkat lanjut (advanced digital skills) dan keterampilan ekonomi hijau (green jobs). Ia menegaskan bahwa kemampuan menggunakan media sosial semata bukanlah keterampilan digital yang dibutuhkan industri.

Kedua, lulusan juga perlu memiliki human skills readiness. Di tengah masifnya penggunaan AI, Yassierli menilai kemampuan seperti berpikir kritis, empati, kepemimpinan, dan kreativitas tetap menjadi pembeda utama.

“AI tidak akan bekerja optimal tanpa sentuhan manusia. Human skills membuat pengguna memahami konteks, batasan, dan risiko AI,” katanya.

Ketiga, market entry readiness. Menurut dia, kesiapan ini berkaitan dengan kemampuan lulusan memahami dinamika industri. Karena itu, ia mendorong para wisudawan memiliki portofolio yang kuat, pengalaman magang, serta sertifikasi kompetensi sebagai bukti konkret kapabilitas mereka di mata perusahaan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mensos: Proses KBM Sekolah Rakyat di Lampung Baik, Gedung Permanen Disiapkan
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Waspada! Tawaran Haji Tanpa Antre Bisa Berujung Deportasi dan Denda
• 19 jam laluokezone.com
thumb
3 Tanaman Ini Banyak di RI Ternyata Bisa Jadi Obat Anti Kanker
• 2 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Ada 103 Anak yang Pernah Dititipkan di Daycare Little Aresha Yogya, 53 Alami Kekerasan Fisik dan Verbal
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
Prajurit TNI Praka Rico Pramudia Gugur Usai Tank Israel Serang UNIFIL di Lebanon
• 20 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.