SIDOARJO, KOMPAS-Warga di permukiman padat di Desa Keboansikep, Kecamatan Gedangan, Sidoarjo, menggelar simulasi penanggulangan kebakaran mandiri. Tujuannya, meningkatkan kesiapsiagaan darurat dan sebagai antisipasi dampak musim kemarau yang diperkirakan bakal datang lebih panjang di tahun ini.
Latihan tanggap darurat bencana kebakaran ini berlangsung sejak pukul 08.00 WIB di lingkungan RW 008 Perumahan Griya Permata Gedangan. Kegiatan ini melibatkan warga, termasuk para ibu rumah tangga, pengurus RT dan RW, dan dibantu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sidoarjo.
Salah satu materinya tentang teknik penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Warga juga diajarkan teknik memadamkan api menggunakan karung goni basah.
Salah satu warga, Indrawati (45) mengatakan, awalnya sempat takut memegang APAR. Ia menganggap APAR identik dengan laki-laki karena berat dan memerlukan ketrampilan khusus untuk menggunakannya.
Namun, setelah mencoba, ia tidak cemas lagi. Bahkan menurutnya ibu-ibu harus bisa menggunakan apar agar bisa melakukan penanganan awal saat terjadi kebakaran.
"Apalagi sekarang kemarau rawan kebakaran. Ibu-ibu inilah yang banyak di rumah ketika suami bekerja," ujar Indrawati.
Gunari, warga lainnya, menambahkan suatu saat pernah terjadi kebakaran di lingkungan perumahan. Warga panik dan berupaya memadamkan dengan menggunakan peralatan seadanya.
"APAR-nyaada akan tetapi tidak tahu prosedur standar penggunaannya sehingga digunakan secara asal-asalan," kata Gunari.
Ketua RT 006 RW 008 Desa Keboansikep Ifron Hadi Susanto mengatakan, pelatihan penanganan kebakaran di kawasan permukiman ini diinisiasi mandiri warga. Mereka sadar akan pentingnya pelatihan ini agar bisa menangani bencana dengan cepat dan tepat.
Kepala Pelaksana BPBD Sidoarjo Sabino Mariano mengapresiasi inisiasi warga mengadakan pelatihan penanggulangan bencana mandiri. Menurutnya, model ini menjadi yang pertama di Sidoarjo. Sebelumnya pelatihan penggulangan bencana digelar di sekolah dan instansi pemerintah seperti rumah sakit.
"Inisiasi ini layak diapresiasi dan menjadi percontohan bagi lingkungan lainnya. Masyarakat tidak hanya menunggu pemerintah melainkan bisa berinisiatif dengan merangkul pihak swasta," ucap Sabino.
Sabino menambahkan, seiring datangnya musim kemarau ancaman bencana kebakaran berpotensi meningkat. Apalagi kemarau tahun ini diprediksi berlangsung lebih kering dan dalam jangka waktu lebih lama.
Oleh karena itulah, BPBD Sidoarjo berupaya meningkatkan kesiapsiagaan warga dalam menghadapi berbagai bencana yang mengancam terutama kebakaran.
Penanganan kebakaran di kawasan permukiman padat menjadi tantangan di Sidoarjo karena akses jalannya yang sempit, minimnya fasilitas seperti hidran air, dan lokasinya yang jauh dari Unit Pemadam Kebakaran.
Menurutnya, kesiapsiagaan menjadi penting untuk mempercepat penanganan dini dan mencegah kebakaran menjadi lebih besar. dengan kesiapsiagaan yang baik, bisa mencegah jatuhnya korban jiwa dan menekan kerugian material.
Selain itu, pihaknya mengakui pemerintah daerah memiliki banyak keterbatasan untuk memperbanyak pelatihan kebencanaan di masyarakat seperti terbatasnya anggaran, sumber daya manusia, serta sarana dan prasarana.
”Dengan sinergi pentahelix termasuk masyarakat diharapkan bisa memperkuat upaya meningkatkan kesiapsiagaan bencana,” ucap Sabino
Salah satu upayanya ialah menggandeng perusahaan swasta agar menyalurkan dana tanggungjawab sosialnya untuk pemberdayaan masyarakat salah satunya pelatihan penanggulangan kebakaran.





