FAJAR, JAKARTA –Ambisi untuk kembali mengangkat trofi kini bukan lagi sekadar wacana bagi Timnas Indonesia. Di bawah arahan pelatih anyar John Herdman, target juara Piala AFF 2026 mulai diproyeksikan secara serius—dengan pendekatan yang berbeda, lebih pragmatis, dan memaksimalkan sumber daya yang sudah ada, termasuk para pemain naturalisasi yang merupakan “warisan” era Shin Tae-yong.
Langkah awal Herdman terlihat dari pemanggilan pemain untuk pemusatan latihan di Jakarta pada akhir Mei 2026. Nama-nama seperti Thom Haye, Marc Klok, dan Saddil Ramdani menjadi sorotan. Bukan hanya karena kualitas individu mereka, tetapi juga karena mereka mewakili kombinasi pengalaman, teknik, dan fleksibilitas taktik yang dibutuhkan dalam turnamen seketat AFF.
Khusus Saddil, pemanggilan ini terasa seperti sebuah “kisah penebusan”. Setelah lebih dari dua tahun absen dari skuad Garuda, ia akhirnya kembali mendapat kesempatan. Dalam sepak bola, momentum sering kali menjadi segalanya, dan performanya bersama klub musim ini menjadi alasan kuat di balik kepercayaan tersebut. Herdman tampaknya melihat sesuatu yang mungkin terlewat oleh pelatih sebelumnya—kemampuan Saddil untuk membuka ruang dan memberikan dimensi berbeda di sisi sayap.
Namun, inti dari proyek ini bukan hanya soal satu atau dua pemain. Herdman mewarisi fondasi yang telah dibangun oleh Shin Tae-yong, terutama dalam hal integrasi pemain naturalisasi. Nama-nama seperti Thom Haye dan Marc Klok bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari struktur tim. Mereka membawa pengalaman bermain di level Eropa, pemahaman taktik yang matang, serta ketenangan dalam mengontrol tempo permainan.
Di sinilah menariknya pendekatan Herdman. Alih-alih merombak total, ia justru mencoba mengoptimalkan apa yang sudah ada. Filosofinya tampak sederhana: jika fondasi sudah kuat, maka yang dibutuhkan adalah penyempurnaan—bukan revolusi. Ini terlihat dari bagaimana ia tetap mempertahankan kerangka tim, sambil menambahkan variasi dalam pendekatan permainan.
Pemusatan latihan (TC) yang digelar pada 26–30 Mei bukan sekadar agenda rutin. Ini adalah tahap seleksi yang sesungguhnya. Herdman akan menilai bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga kecocokan pemain dengan sistem yang ingin ia bangun. Dalam turnamen seperti Piala AFF, chemistry tim sering kali lebih menentukan dibandingkan kualitas individu semata.
Selain itu, agenda FIFA Matchday pada awal Juni, termasuk laga melawan Timnas Oman, akan menjadi ujian nyata. Pertandingan tersebut bukan hanya ajang uji coba, tetapi juga laboratorium taktik. Di sana, Herdman bisa melihat bagaimana kombinasi pemain lokal dan naturalisasi bekerja dalam tekanan pertandingan sesungguhnya.
Yang juga menarik adalah bagaimana persaingan di dalam tim mulai terbuka lebar. Pemanggilan pemain dari berbagai klub seperti Persib Bandung dan Persija Jakarta menunjukkan bahwa tidak ada lagi “zona nyaman”. Setiap pemain harus membuktikan diri, baik dalam latihan maupun pertandingan uji coba.
Situasi ini menciptakan dua efek sekaligus. Di satu sisi, kualitas tim meningkat karena setiap pemain dipaksa tampil maksimal. Di sisi lain, Herdman memiliki banyak opsi untuk meracik strategi, tergantung lawan yang dihadapi. Fleksibilitas ini sangat penting dalam turnamen pendek seperti AFF, di mana jadwal padat dan kondisi pemain bisa berubah dengan cepat.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Menggabungkan pemain dengan latar belakang berbeda—baik dari segi gaya bermain maupun pengalaman—bukan perkara mudah. Dibutuhkan komunikasi yang baik, serta kejelasan peran di dalam tim. Jika tidak, justru bisa menimbulkan ketidakseimbangan.
Selain itu, ekspektasi publik juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Target juara bukan hanya datang dari internal tim, tetapi juga dari tekanan suporter yang sudah lama menantikan trofi AFF. Dalam situasi seperti ini, kekuatan mental menjadi sama pentingnya dengan kemampuan teknis.
Namun, jika melihat arah yang sedang dibangun, ada alasan untuk optimistis. Herdman tampaknya memahami bahwa kunci sukses bukan hanya pada siapa yang bermain, tetapi bagaimana mereka bermain bersama. Dengan memaksimalkan pemain naturalisasi yang sudah beradaptasi, serta menghidupkan kembali pemain-pemain yang sempat tersisih, ia sedang mencoba menciptakan keseimbangan yang ideal.
Pada akhirnya, perjalanan menuju Piala AFF 2026 akan menjadi ujian sesungguhnya bagi proyek ini. Apakah kombinasi antara warisan Shin Tae-yong dan sentuhan baru John Herdman mampu menghasilkan sesuatu yang lebih besar? Jawabannya akan ditentukan di lapangan.
Satu hal yang pasti, Timnas Indonesia kini tidak lagi sekadar ingin bersaing. Mereka ingin menang. Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu terakhir, ambisi itu terasa memiliki fondasi yang cukup kuat untuk diwujudkan.





