Air Mata di Balik Cobek Rujak: Penantian 29 Tahun Istoifah Menuju Baitullah

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Di sebuah sudut jalanan Kota Cirebon, suara ulekan yang beradu dengan cobek batu menjadi irama harian bagi Istoifah Aminah (57). ‎ Selama puluhan tahun, jemarinya lincah meracik bumbu kacang, mengiris buah, dan menyajikan kesegaran bagi para pelanggan rujaknya. ‎ ‎Namun, di balik peluh dan aroma terasi yang menyengat, tersimpan sebuah rahasia besar yang ia langitkan setiap hari: sebuah kerinduan mendalam untuk bersujud di depan Ka’bah. ‎ ‎Tahun ini, mimpi yang dipendamnya sejak tahun 1997 itu bukan lagi sekadar angan. Istoifah, sang pedagang rujak dari Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, akan berangkat ke Tanah Suci pada 8 Mei 2026 mendatang dengan Kloter 23 Embarkasi Kertajati.

Perjuangan Menyisihkan Receh demi Receh

Perjalanan Istoifah mencapai mimpinya tak mudah. Sebagai tulang punggung keluarga, ia harus membagi hasil dagangannya yang tak menentu untuk banyak keperluan.

‎‎Sejak 29 tahun lalu, ia mulai menyisihkan uang sedikit demi sedikit untuk bisa menunaikan ibadah haji.‎

‎"Saya nabung dari tahun sembilan tujuh," kenang Istoifah dengan suara bergetar di warung rujaknya. Jumat (24/4).

Sebagai seorang ibu, ia tetap menomorsatukan masa depan darah dagingnya.

‎"Saya biayain anak-anak saya sekolah dulu, sampai mereka sarjana. Nah, selebihnya baru saya tabung benar-benar buat berangkat haji," sambungnya.

‎Kesabarannya adalah definisi dari "ikhlas". Ia mendahulukan gelar sarjana anak-anaknya sebelum ia mengejar gelar hajjah untuk dirinya sendiri.

Rasa Sesak Dibarengi Sholawat

‎Ada satu pemandangan menyentuh yang kerap disaksikan orang-orang terdekatnya setiap musim haji tiba.

‎Tiap kali melihat rombongan pengantar jemaah haji melintas dengan iringan sholawat yang menggema, dada Istoifah sesak. Air matanya selalu tumpah.

‎Sambil mengelus dada dan meneteskan air mata, "Kapan giliran saya bisa seperti itu?" ia sering berbisik dalam hati.

‎"Saya gak bisa berkata-kata. Jika ingat semua ini, saya selalu meneteskan air mata. Gak nyangka akhirnya bisa naik haji. Mungkin Allah SWT akhirnya mengabulkan doa-doa saya," ungkapnya sembari menyeka sudut mata.

‎Kini, tangis itu bukan lagi tangis kecemburuan yang pedih, melainkan tangis haru penuh syukur. Tak lama lagi, justru dialah yang akan diantar oleh sanak saudara dan tetangga dengan lantunan sholawat yang sama.‎

‎Memetik Buah Kesabaran

‎Menjelang keberangkatannya, nenek satu cucu ini mulai sibuk melakukan persiapan terakhir.

‎Dari mulai pakaian ihram hingga perbekalan kecil seperti obat-obatan dan camilan mulai ia tata dengan rapi.‎

Baginya, perjalanan ini bukan sekadar menjalankan rukun Islam kelima, melainkan bukti nyata bahwa niat yang kuat, jika dibarengi dengan usaha keras dan keyakinan dalam doa, tidak akan pernah dikhianati oleh hasil.

Saat ditanya apa yang akan ia minta di depan Baitullah nanti, Istoifah hanya menginginkan hal sederhana namun mendalam.‎

‎"Minta panjang umur yang berkah, kemudahan dalam segala urusan, dan kelancaran ibadah hingga kembali ke tanah air. Aamiin," harapnya.

Kisah Istoifah Aminah adalah pengingat bagi kita semua yaitu bahwa Tuhan tidak memanggil orang-orang yang mampu, melainkan memampukan orang-orang yang terpanggil. Dan tahun ini, panggilan itu akhirnya singgah padanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Persebaya Gaungkan Perdamaian Suporter Lewat Jersey Run
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Ada Long Weekend Minggu Depan, Catat Tanggalnya
• 2 jam laludetik.com
thumb
Hasil Moto3 Spanyol: Performa Veda Ega Pratama di Jerez Membuat Levelnya Kini Melampaui Hakim Danish dan Brian Uriarte
• 2 jam laluharianfajar
thumb
Polisi Didesak Hukum Berat Pelaku Kekerasan di Daycare Little Aresha Yogyakarta
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Prajurit TNI Kembali Gugur di Lebanon, Pemerintah Kutuk Serangan dan Desak Investigasi
• 14 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.