Jakarta: Ikan sapu-sapu menjadi sorotan setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan kebijakan penangkapan massal ikan tersebut. Ikan sapu-sapu menjadi ancaman ekologis serius yang diam-diam melumpuhkan kelestarian perairan.
Dosen Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rindya Fery Indrawan, memberikan peringatan keras bahwa ledakan populasi spesies invasif ini berpotensi memicu kolapsnya struktur rantai makanan sekaligus menyapu bersih eksistensi ikan-ikan endemik lokal.
Baca Juga :
7 Negara yang Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu, Siapa Saja?"Aktivitas mereka yang terus menyapu dasar perairan juga membuat telur-telur ikan lokal tertimbun sedimen hingga gagal menetas. Spesies perairan bawah seperti nilem, tawes, wader, dan betok pun kini berada di ambang kepunahan lokal," terangnya.
Ia menambahkan, sulitnya menekan laju populasi spesies ini tidak lepas dari kemampuannya sebagai super survivor. Tubuh ikan sapu-sapu dilindungi oleh pelat keras dan sirip berduri tajam, menjadikannya mangsa yang dihindari oleh predator alami lokal seperti biawak.
"Tingkat adaptasinya pun ekstrem; mereka mampu bertahan hidup di perairan dengan kadar oksigen yang sangat minim," tuturnya. Penanganan Komprehensif
Penanganan ikan sapu-sapu di Jakarta. Antara.
Fery mendesak adanya mitigasi komprehensif, mulai dari penangkapan massal untuk menekan biomassa, hingga pemanfaatannya secara ekonomi. Daripada dibuang, ikan ini dapat diolah menjadi bahan baku tepung ikan atau pakan ternak berprotein tinggi.
"Dengan catatan tidak untuk konsumsi manusia jika berasal dari perairan tercemar logam berat," terangnya.
Edukasi publik juga menjadi kunci mutlak. Fery melarang keras kebiasaan masyarakat yang sering melepaskan ikan predator peliharaan dari akuarium ke alam liar.
"Ini bukan sekadar menyelamatkan satu spesies, tapi menjaga keseimbangan alamiah. Jika tidak ada sinergi lintas sektor, kita berisiko besar kehilangan ikan lokal yang menjadi identitas serta penopang ketahanan pangan bangsa," ucapnya.




