Di RUANG yang semestinya hangat, seorang balita menangis tanpa pelukan. Tangannya diikat, tubuhnya diseret, dan matanya mencari wajah yang ia kenal.
Ia tak menemukan ibunya—yang ia temukan adalah sunyi yang dipaksa diam. Ruang itu kita kenal sebagai daycare, tempat yang dipilih orang tua untuk menitipkan yang paling berharga: anak, masa depan, dan kepercayaan.
Kasus kekerasan di Little Aresha Daycare di Yogyakarta beberapa hari terakhir, memaksa kita membuka mata.
Sedikitnya 53 anak diduga menjadi korban, dengan 13 orang ditetapkan sebagai tersangka, dari pengasuh hingga pengelola.
Lebih dari seratus anak pernah dititipkan di tempat itu. Artinya, ruang yang seharusnya menjadi perlindungan berubah menjadi potensi ancaman nyata.
Kita tercekat bukan hanya karena kekerasannya, tetapi karena tempat itu berdiri secara legal. Ia memiliki izin, memiliki nama, dan beroperasi dalam sistem yang diakui negara.
Baca juga: 5 Fakta Kekerasan Daycare Little Aresha Jogja: Anak Alami Pneumonia, ASN Jadi Korban
Namun, ketika pintu ditutup dan aktivitas berlangsung, negara seolah ikut menghilang. Di sanalah luka sunyi itu lahir—tanpa pengawasan, tanpa perlindungan, tanpa kehadiran yang nyata.
Fakta PahitPenggerebekan aparat memperlihatkan sesuatu yang sulit diterima akal sehat: anak-anak diikat tangan dan kakinya, ditidurkan di lantai, dan mengalami luka fisik.
Ini bukan lagi dugaan kabur; ini adalah kekerasan yang berlangsung di hadapan sistem yang gagal mendeteksinya lebih awal.
Sebagian besar korban adalah balita—usia ketika seorang anak bahkan belum mampu mengartikulasikan rasa sakitnya.
Dalam kondisi seperti ini, hukum seharusnya hadir sebagai pelindung paling awal. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: hukum datang terlambat, setelah luka itu nyata.
Fakta ini menegaskan bahwa kekerasan tidak terjadi secara insidental. Ia berlangsung berulang, melibatkan banyak pelaku, dan terjadi dalam sistem pengasuhan yang seharusnya terstandar.
Dengan kata lain, ini adalah kekerasan sistemik yang mengindikasikan kegagalan kontrol internal dan eksternal sekaligus.
Daycare berdiri di atas fondasi kepercayaan. Orangtua menitipkan anak bukan karena pilihan ringan, tetapi karena kebutuhan yang dipadukan dengan keyakinan bahwa ada sistem yang menjamin keselamatan.
Ketika sistem itu runtuh, yang hancur bukan hanya satu lembaga, melainkan kepercayaan publik secara luas.





